Era AI, Ini Cara UMKM Memilih Mitra Teknologi yang Tepat


Selasa, 22 Sep 2026 17:49 WIB
Mitra teknologi kompeten membantu UMKM menghadapi ancaman siber dan menjaga keamanan bisnis di era AI.
Foto: Dok. Shutterstock
Jakarta -

Cara UMKM menghadapi ancaman siber di era AI dimulai dari keputusan memilih mitra teknologi yang kompeten. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian UMKM memperkirakan sekitar 26 juta dari 30,2 juta unit usaha aktif di Indonesia telah masuk ke ekosistem digital. Semakin banyak aktivitas bisnis yang bergantung pada sistem digital, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga data dan sistem dari ancaman siber.

Risikonya juga terlihat dari jumlah serangan siber. Data terbaru mencatat 257.976.333 serangan siber menyasar infrastruktur Indonesia sepanjang semester I 2026. Jumlah tersebut naik 93,33 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 dan setara dengan rata-rata 16 serangan per detik.

Kondisi tersebut membuat kompetensi mitra teknologi semakin penting bagi pelaku usaha. Sangfor Technologies Indonesia turut memperkuat kompetensi ekosistem partner melalui program pengembangan yang membekali mitra dengan pengetahuan terkait AI, cloud infrastructure, dan cybersecurity. Bagi UMKM, keberadaan mitra dengan kompetensi tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun sistem digital yang lebih aman.

Sementara itu, Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 menunjukkan hanya 11 persen organisasi di Indonesia yang berada dalam kategori Mature dalam kesiapan menghadapi ancaman siber. Survei tersebut mencakup 158 responden dari Indonesia dan menilai kesiapan organisasi dalam sejumlah aspek keamanan digital.

Bagi UMKM yang belum memiliki tim keamanan siber sendiri, pemilihan mitra teknologi menjadi salah satu keputusan penting. Pelaku usaha perlu mempertimbangkan kompetensi teknis, kemampuan memberikan pendampingan, serta pengalaman penyedia solusi dalam menangani keamanan cloud, data, dan teknologi berbasis AI.

Kenapa Kompetensi Mitra Teknologi Menentukan Keamanan Bisnis Anda?

Sebagian besar UMKM mengadopsi teknologi lewat perantara seperti reseller, integrator, atau konsultan IT. Mereka yang menerjemahkan kebutuhan bisnis menjadi konfigurasi teknis, mulai dari penyimpanan data, jaringan antarcabang, hingga firewall. Kesalahan konfigurasi pada tahap ini dapat membuka celah yang tidak pernah tertulis di brosur produk. Ketika mitra memahami cara kerja infrastruktur sekaligus cara kerja bisnis Anda, rekomendasi yang diberikan lebih tepat sasaran.

Dari sisi keuangan, kompetensi mitra berkaitan langsung dengan biaya. Indosat Business memperkirakan rata-rata kerugian akibat kebocoran data di Indonesia mencapai Rp15 miliar. Angka itu merujuk pada organisasi secara umum, sehingga skala kerugian UMKM tentu lebih kecil. Namun pertanyaannya serupa: berapa lama bisnis Anda sanggup berhenti beroperasi jika sistemnya terkunci, dan berapa kas yang tersedia untuk memulihkannya?

Bagaimana UMKM Menilai Mitra Teknologi untuk Hadapi Ancaman Siber di Era AI?

Ada tiga hal yang bisa diperiksa sebelum menandatangani kontrak. Pertama, apakah mitra mampu berkonsultasi dengan menanyakan alur data dan proses bisnis Anda, tidak hanya menawarkan produk. Kedua, apakah tim teknisnya memiliki sertifikasi atau pengalaman implementasi pada skenario yang mirip dengan usaha Anda. Ketiga, apakah tersedia dukungan setelah pemasangan, termasuk pemantauan dan respons insiden.

Poin ketiga makin relevan karena regulasi pelindungan data pribadi menuntut pelaporan insiden dalam waktu 72 jam, sebagaimana dipaparkan Indosat Business. Bisnis yang tidak punya pihak untuk membantu menganalisis kebocoran akan kesulitan memenuhi tenggat tersebut.

Apa Dampak Ekosistem Mitra yang Kuat bagi Ekonomi Digital Nasional?

Ekonomi digital hanya sekuat rantai pelaksananya. Ketika kualitas mitra teknologi meningkat, adopsi cloud dan AI di sektor usaha kecil ikut berjalan lebih aman dan kepercayaan konsumen pada transaksi online lebih terjaga. Kepercayaan itu menjadi modal bagi UMKM yang ingin naik kelas, mulai dari menerima pembayaran digital hingga menembus pasar ekspor. Ensign InfoSecurity mencatat aktivitas ransomware di ASEAN meningkat dua kali lipat sepanjang 2025, sehingga persaingan ke depan menyangkut siapa yang mampu menjaga data pelanggannya, di samping harga dan kualitas produk.

Pelaku usaha yang mulai membenahi keamanan hari ini sedang membangun reputasi yang akan dihargai pelanggan dan mitra bisnis dalam beberapa tahun ke depan. Cara UMKM menghadapi ancaman siber di era AI pada akhirnya ditentukan oleh kesiapan sistem, kualitas mitra, dan kebiasaan memeriksa risiko secara rutin.

Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.

(srz/srz)