Daftar Isi
Soft skill di dunia kerja, terutama kemampuan bernegosiasi, menentukan siapa yang memenangkan harga, kontrak, dan kemitraan. Melatihnya sejak bangku sekolah dapat menjadi bekal bagi pelaku usaha masa depan. Sebuah laporan ketenagakerjaan global tahun 2025 mencatat bahwa 69 persen perusahaan menilai kemampuan berpikir analitis sebagai keterampilan inti tenaga kerja. Sementara itu, 67 persen perusahaan menempatkan ketangguhan, fleksibilitas, dan kelincahan sebagai keterampilan inti. Data tersebut menunjukkan bahwa dunia kerja membutuhkan individu yang mampu berpikir kritis sekaligus beradaptasi menghadapi tekanan.
Bagi ekonomi Indonesia, kebutuhan ini menyentuh struktur utama dunia usaha. UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap hingga 97 persen tenaga kerja berdasarkan data pemerintah. Setiap hari, pelaku usaha bernegosiasi dengan pemasok, pembeli, dan platform digital. Di tengah margin keuntungan yang tipis, kemampuan mencapai kesepakatan yang menguntungkan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha.
Latihan semacam itu mulai banyak ditemui di ruang kelas. EcoSocioTech School TB Simatupang di Jakarta menggelar HSMUN ke-18, konferensi simulasi sidang PBB tingkat SMA, pada 23 hingga 24 Oktober 2026. Delapan dewan membahas isu mulai dari stabilitas jalur perdagangan global di forum ASEAN hingga evaluasi kebijakan pendidikan menuju Indonesia Emas 2045. Delegasi menyusun posisi negara, bernegosiasi, lalu memberikan suara untuk resolusi.
Mengapa Kemampuan Negosiasi Menjadi Modal Utama Pelaku Usaha?
Negosiasi di ruang sidang dan dunia usaha memiliki prinsip yang serupa, yaitu memahami kepentingan pihak lain, menyusun argumen berdasarkan data, serta mencari kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak. Keterampilan tersebut diasah oleh para delegasi melalui setiap sesi simulasi sidang PBB. Tingginya partisipasi pelajar Indonesia dalam kegiatan serupa juga menunjukkan ketertarikan terhadap forum diplomasi internasional. Salah satu konferensi simulasi sidang PBB di Bangkok pada Juli 2026 mencatat 486 dari total 700 delegasi berasal dari Indonesia.
Bagi UMKM, kebiasaan menyiapkan posisi sebelum perundingan membantu pelaku usaha menawar harga bahan baku, menetapkan syarat pembayaran, dan merundingkan komisi marketplace. Pelaku usaha yang terbiasa menyusun argumen dengan data juga lebih mudah menjelaskan nilai produknya kepada pembeli besar.
Apa Hubungan Simulasi Sidang dengan Soft Skill di Dunia Kerja?
Simulasi sidang menuntut peserta menulis dokumen posisi, berbicara di depan forum, dan menghimpun dukungan sebelum pemungutan suara. Alurnya mirip proposal bisnis: riset, presentasi, lobi, lalu penutupan kesepakatan. Kepemimpinan dan pengaruh sosial, dua keterampilan yang menurut laporan Forum Ekonomi Dunia makin dibutuhkan pemberi kerja, terbentuk lewat pengalaman semacam ini.
Pembicara dari kementerian dan Sekretariat ASEAN turut hadir di forum tersebut, sehingga peserta bertemu langsung dengan praktisi yang mengelola negosiasi lintas negara. Pertemuan itu memberi gambaran tentang bagaimana kepentingan yang bertentangan dikelola menjadi kerja sama yang bisa dijalankan.
Bagaimana Investasi Soft Skill Membentuk Ekonomi 2045?
Pemerintah menargetkan proporsi angkatan kerja berpendidikan minimal SMA sederajat dan perguruan tinggi mencapai 90 persen pada 2045. Target tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi persaingan global. Di tengah periode bonus demografi, pengembangan keterampilan seperti negosiasi, kepemimpinan, dan ketangguhan menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk bersaing di dunia kerja sekaligus mengembangkan peluang usaha hingga pasar internasional.
Dunia usaha ikut memperoleh manfaat langsung. Perusahaan yang menggandeng sekolah lewat program magang, mentoring, atau peran juri konferensi dapat mengenali talenta lebih awal dan menyesuaikan program pelatihan dengan kebutuhan lapangan.
Soft skill di dunia kerja akan terus naik nilainya seiring teknologi mengambil alih tugas rutin. Menanamkan negosiasi, kepemimpinan, dan kemampuan membaca kepentingan sejak sekolah menyiapkan generasi yang siap memimpin usaha, merintis kemitraan, dan membawa produk lokal ke pasar global.
Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.
(srz/srz)