Rumah Siap Huni Dibawah 1 Miliar Makin Diminati


Sabtu, 31 Oct 2026 17:28 WIB
Rumah terjangkau dan siap huni makin diminati, membuka peluang bagi pelaku bisnis dan UMKM.
Foto: Dok. Kementerian PUPR
Jakarta -

Calon pembeli rumah pada 2026 menunjukkan minat yang lebih besar terhadap hunian dengan harga di bawah Rp1 miliar, rumah seken siap huni, serta lokasi di kawasan penyangga yang terhubung dengan akses transportasi. Tren ini tergambar dalam laporan pasar properti Semester I 2026 yang disusun berdasarkan perilaku lebih dari empat juta pengguna platform properti. Bagi pelaku bisnis dan UMKM, pergeseran preferensi ini dapat menjadi gambaran mengenai peluang pasar di segmen hunian yang lebih terjangkau.

Mengapa Rumah di Bawah Rp1 Miliar Mendominasi Pencarian?

Proporsi pencarian rumah baru dengan harga di bawah Rp1 miliar meningkat dari 58 persen pada Semester I 2025 menjadi 67 persen pada Semester I 2026. Sementara itu, sekitar 70 persen pengajuan kredit kepemilikan rumah (KPR) non-subsidi yang tercatat melalui platform properti berasal dari rumah dengan harga di bawah Rp1 miliar. Kondisi ini menunjukkan bahwa hunian dengan harga lebih terjangkau semakin menjadi perhatian calon pembeli. Bagi pengembang dan agen properti, tren tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk menyesuaikan pilihan unit dengan kemampuan daya beli konsumen.

Tekanan daya beli juga membuat calon pembeli cenderung lebih selektif sebelum mengambil keputusan. Meski aktivitas pencarian rumah meningkat, sebagian konsumen masih berada dalam tahap eksplorasi dan membandingkan pilihan sebelum memutuskan membeli. Kesiapan uang muka, suku bunga KPR, serta penawaran dari perbankan dapat menjadi sejumlah pertimbangan dalam menentukan waktu pembelian.

Apa yang Membuat Rumah Siap Huni dan Kota Penyangga Makin Dilirik?

Rumah bekas siap huni semakin diminati karena calon pembeli dapat langsung menempati hunian tanpa harus menunggu proses pembangunan atau mengeluarkan biaya renovasi tambahan yang belum pasti. Rasio pencarian terhadap ketersediaan rumah siap huni meningkat dari 0,9 menjadi 1,1 pada Semester I 2026. Sementara itu, rata-rata pencarian rumah tumbuh 13 persen per bulan dan inventori rumah tapak nasional meningkat 5 persen dibandingkan semester sebelumnya. Data ini menunjukkan bahwa aktivitas pencarian hunian tetap tumbuh, meskipun preferensi konsumen semakin mengarah pada rumah yang sudah siap ditempati.

Selain harga, akses transportasi juga menjadi salah satu faktor yang mepengaruhi pilihan lokasi hunian. Di kawasan Jabodetabek, proporsi pencarian rumah di Kota Bekasi meningkat dari 11 persen menjadi 12 persen, sedangkan Kabupaten Bekasi naik dari 6 persen menjadi 7 persen. Akses transportasi seperti LRT Jabodebek menjadi bagian dari perkembangan konektivitas kawasan penyangga tersebut. Tren serupa terlihat di Yogyakarta. Proporsi pencarian rumah di Kota Yogyakarta turun dari 23 persen menjadi 14 persen, sementara Kabupaten Sleman meningkat dari 56 persen menjadi 64 persen dan Bantul dari 17 persen menjadi 19 persen. Pergeseran ini memperlihatkan meningkatnya perhatian calon pembeli terhadap kawasan penyangga yang menawarkan akses menuju pusat aktivitas.

Bagaimana Pelaku Usaha dan UMKM Bisa Membaca Peluang Ini?

Ukuran rumah yang lebih kecil membuat sebagian pembeli ingin menyisakan anggaran untuk renovasi ringan, interior, dan perlengkapan rumah. Kondisi itu membuka ruang bagi kontraktor skala kecil, perajin furnitur, penyedia dekorasi, dan toko perlengkapan rumah yang menawarkan paket hemat untuk hunian tipe kecil.

Skema KPR juga ikut berubah. Sekitar 60 persen pengajuan KPR di salah satu platform properti berupa KPR takeover, yang dipilih untuk mendapatkan cicilan lebih ringan atau mengubah tenor. Pelaku jasa keuangan, agen properti, dan konsultan perencana keuangan dapat menyiapkan edukasi seputar perbandingan skema cicilan untuk pembeli yang sedang menghitung ulang kemampuan bayar.

Bagi Anda yang mengelola bisnis di sekitar sektor properti, data pencarian menjadi sinyal awal yang berharga. Pencarian yang naik belum tentu langsung menjadi transaksi, tetapi arah minatnya sudah terbaca: terjangkau, siap pakai, dan dekat akses transportasi. Penawaran yang selaras dengan tiga kriteria tersebut berpeluang lebih mudah dilirik saat pembeli akhirnya memutuskan.

Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.

(srz/srz)