Daftar Deals
- Apa Itu Purchase Order?
- Fungsi Purchase Order dalam Bisnis
- Bagaimana Cara Kerja Purchase Order?
- Jenis-Jenis Purchase Order
- Manfaat Menggunakan Purchase Order
- Perbedaan Purchase Order, Invoice, dan Sales Order
- Cara Membuat Purchase Order yang Benar
- Contoh Format Purchase Order
- Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membuat Purchase Order
- Kapan Perusahaan Sebaiknya Menggunakan Purchase Order?
Apa Itu Purchase Order?
Purchase order adalah dokumen resmi yang diterbitkan pembeli kepada penjual untuk memesan barang atau jasa, lengkap dengan rincian jumlah, harga, dan syarat pembayaran yang disepakati kedua pihak. Dokumen ini mengikat secara komersial begitu penjual menyatakan persetujuan, sehingga menjadi dasar hukum sebelum transaksi berjalan. Kementerian Perdagangan mencatat business matching UMKM Januari hingga Oktober 2025 menghasilkan transaksi Rp2,17 triliun, dengan porsi terbesar lahir dari PO senilai 56,99 juta dolar AS dari pembeli mancanegara, gambaran bahwa kemampuan mengelola PO bisa menjadi pintu masuk ke pasar ekspor.
Fungsi Purchase Order dalam Bisnis
Bagi pembeli, PO menjadi alat kontrol anggaran karena setiap pengeluaran tercatat sejak awal pemesanan. Bagi penjual, dokumen ini menjadi jaminan bahwa pesanan berasal dari pihak sah yang bersedia membayar sesuai kesepakatan. PO juga menjadi rujukan utama saat terjadi selisih jumlah barang, harga, atau jadwal pengiriman, sekaligus dokumen pendukung yang mempermudah audit karena mencatat jejak transaksi secara kronologis.
Bagaimana Cara Kerja Purchase Order?
Proses PO dimulai dari permintaan pembelian internal, dilanjutkan penerbitan PO oleh tim purchasing kepada vendor terpilih. Vendor mengonfirmasi ketersediaan barang atau jasa sebelum pengiriman dilakukan, dan invoice baru diterbitkan setelah barang diterima sesuai PO. Manager General Services Regional 2 Pertamina EP, Erwan Karouw, pernah mengungkapkan proses pengajuan PO manual sebelum digitalisasi bisa memakan waktu hingga satu bulan karena sulitnya mencari vendor yang sesuai kriteria, contoh yang menggambarkan pentingnya sistem PO yang tertata.
Jenis-Jenis Purchase Order
Setiap jenis PO dirancang untuk kebutuhan transaksi berbeda, mulai dari pembelian sekali jalan hingga kerja sama jangka panjang dengan vendor tetap.
Standard Purchase Order (SPO)
SPO dipakai untuk pembelian satu kali dengan spesifikasi barang, jumlah, dan harga yang sudah pasti sejak awal. Jenis ini paling umum dipakai UMKM karena prosesnya sederhana dan cocok untuk kebutuhan mendadak.
Planned Purchase Order (PPO)
PPO diterbitkan untuk kebutuhan yang sudah direncanakan namun jadwal pengirimannya masih fleksibel dan bisa disesuaikan kemudian. Model ini membantu bisnis mengunci harga lebih awal tanpa harus menerima seluruh barang sekaligus.
Blanket Purchase Order (BPO)
BPO memungkinkan pembeli memesan barang volume besar untuk periode tertentu tanpa menerbitkan PO baru di setiap transaksi. Pendekatan ini cocok bagi usaha dengan kebutuhan bahan baku rutin karena memangkas waktu administrasi.
Contract Purchase Order (CPO)
CPO terikat kontrak jangka panjang dengan vendor tetap, biasanya mencakup syarat harga, volume, dan durasi kerja sama yang lebih detail dibanding jenis PO lain. Jenis ini umum dipakai perusahaan besar maupun BUMN saat menjalin kemitraan strategis dengan pemasok.
Manfaat Menggunakan Purchase Order
PO membantu pelaku usaha menjaga transparansi arus kas karena setiap komitmen pembelian tercatat sebelum uang keluar. Dokumen ini juga mempermudah audit internal maupun eksternal, sekaligus membangun kepercayaan vendor. Bagi UMKM yang ingin naik kelas ke rantai pasok korporasi atau BUMN, kemampuan mengelola PO secara rapi kerap menjadi syarat administratif yang dinilai calon mitra bisnis.
Perbedaan Purchase Order, Invoice, dan Sales Order
PO diterbitkan pembeli sebagai permintaan resmi atas barang atau jasa yang diinginkan. Sales order adalah dokumen balasan dari penjual yang mengonfirmasi pesanan pada PO diterima dan akan diproses. Invoice baru muncul setelah barang dikirim, berisi tagihan yang harus dibayar sesuai jumlah dan harga dalam PO. Ketiga dokumen ini biasanya dicocokkan melalui proses three-way matching sebelum pembayaran cair.
Cara Membuat Purchase Order yang Benar
PO yang baik memuat nomor referensi unik agar mudah dilacak, identitas lengkap pembeli dan vendor, serta deskripsi barang atau jasa yang detail termasuk kuantitas dan harga satuan. Tanggal pengiriman yang diharapkan dan syarat pembayaran, misalnya termin 30 hari setelah invoice diterima, perlu dicantumkan agar kedua pihak punya acuan yang sama. PO idealnya melewati otorisasi pihak berwenang sebelum dikirim ke vendor untuk mencegah pengeluaran yang tidak terkontrol.
Contoh Format Purchase Order
Format PO umumnya diawali informasi header berupa nomor PO, tanggal penerbitan, serta identitas perusahaan pembeli dan vendor. Bagian tengah dokumen memuat rincian barang atau jasa lengkap dengan kuantitas, harga satuan, dan subtotal per item. Bagian penutup mencantumkan total nilai pesanan, syarat pembayaran, estimasi tanggal pengiriman, dan kolom tanda tangan pihak yang mengotorisasi pembelian. Struktur ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan bisnis, namun elemen intinya cenderung serupa di berbagai industri.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membuat Purchase Order
Kesalahan paling umum adalah deskripsi barang yang kurang detail sehingga memicu kesalahpahaman saat barang tiba. Banyak pelaku usaha juga melewatkan pencocokan antara PO, sales order, dan invoice sebelum membayar, padahal langkah ini penting untuk mendeteksi kejanggalan lebih awal. Kelalaian lain yang kerap terjadi adalah tidak mencantumkan syarat pembayaran serta menerbitkan PO tanpa otorisasi berjenjang.
Kapan Perusahaan Sebaiknya Menggunakan Purchase Order?
Bisnis yang mulai bertransaksi volume besar atau rutin dengan banyak vendor sebaiknya segera menerapkan sistem PO agar arus kas tetap terkontrol. PO juga menjadi kebutuhan mendesak ketika perusahaan mulai menjalin kerja sama dengan korporasi besar, BUMN, atau pembeli mancanegara yang umumnya mensyaratkan dokumen pengadaan formal. Bagi UMKM yang sedang bersiap naik kelas, membiasakan diri dengan sistem PO sejak awal akan mempermudah adaptasi ketika skala bisnis semakin besar.
Menerapkan sistem purchase order yang rapi bisa menjadi fondasi penting bagi pelaku usaha yang ingin memperluas jaringan bisnis sekaligus menjaga kesehatan arus kas dalam jangka panjang.
Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.