Kesenjangan Kredit UMKM Tembus Rp2.400 Triliun, Data Transaksi Jadi Kunci Akses Modal Baru


Minggu, 05 Jul 2026 18:06 WIB
Kesenjangan pembiayaan UMKM diproyeksikan Rp2.400 triliun pada 2026. Penilaian kredit berbasis digital jadi solusi untuk akses pembiayaan yang lebih inklusif.
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Kesenjangan pembiayaan UMKM nasional diproyeksikan mencapai Rp2.400 triliun pada 2026, dengan kebutuhan kredit sektor ini menyentuh Rp4.300 triliun sementara kapasitas penyaluran lembaga jasa keuangan baru sekitar Rp1.900 triliun. Angka ini sejalan dengan temuan bahwa 69,5 persen UMKM di Indonesia masih belum memiliki akses kredit perbankan, padahal 43,1 persen di antaranya membutuhkan pembiayaan untuk ekspansi usaha. Persoalan utamanya ada pada cara lembaga pembiayaan menilai kelayakan usaha, terutama bagi UMKM yang belum memiliki riwayat kredit formal.

Salah satu arah yang mulai ditempuh adalah menjadikan rekam jejak transaksi digital sebagai salah satu dasar penilaian kredit, melengkapi penilaian agunan fisik yang selama ini jadi syarat utama. PingPay, platform pembayaran berbasis QR yang baru saja memperluas layanannya ke Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara, menjadi salah satu contoh bagaimana data transaksi merchant kini diarahkan menjadi alat bantu keuangan berbasis kecerdasan buatan, melampaui fungsi awalnya sebagai alat terima pembayaran.


Kenapa Rekam Jejak Transaksi Bisa Lebih Adil daripada Agunan?


Selama ini, banyak pelaku UMKM tertahan mengajukan kredit karena tidak memiliki aset yang bisa dijaminkan atau riwayat perbankan yang cukup panjang. OJK sendiri melalui POJK Nomor 19 Tahun 2025 mewajibkan lembaga keuangan menerapkan prinsip mudah, tepat, cepat, murah, dan inklusif dalam menyalurkan pembiayaan ke UMKM, termasuk mendorong pemanfaatan data alternatif untuk menilai kelayakan usaha. Riwayat transaksi harian, baik dari QRIS maupun platform pembayaran digital lain, memberi gambaran arus kas yang jauh lebih dinamis dibanding laporan keuangan tahunan yang sering telat diperbarui oleh usaha kecil.


Siapa yang Paling Diuntungkan dari Model Penilaian Ini?


Pedagang kecil, usaha rintisan, dan pelaku sektor informal yang selama ini sulit menembus penilaian kredit konvensional menjadi pihak yang paling terbantu. Dengan histori transaksi yang tercatat rapi setiap hari, mereka bisa menunjukkan kestabilan omzet tanpa harus menunggu bertahun-tahun membangun hubungan dengan bank. Model seperti ini juga membantu usaha yang bergerak di kota kecil atau daerah dengan akses layanan keuangan formal yang masih terbatas, karena penilaian tidak lagi bergantung pada kunjungan fisik ke cabang bank.


Manfaatnya juga terasa bagi pengelolaan likuiditas harian. Fitur pendukung keuangan berbasis kecerdasan buatan yang memanfaatkan data transaksi merchant, seperti yang mulai dikembangkan PingPay, diarahkan untuk membantu pelaku usaha kecil memantau arus kas sekaligus mendapatkan gambaran awal kelayakan pembiayaan sebelum mengajukan kredit formal. Pendekatan semacam ini melengkapi skema kredit program pemerintah seperti KUR yang tahun ini menawarkan bunga flat 6 persen, karena data transaksi bisa mempercepat proses verifikasi kelayakan usaha di tahap awal.


Ke Mana Arah Pembiayaan UMKM Setelah Data Jadi Aset?


OJK memproyeksikan kredit UMKM tumbuh 7 hingga 9 persen secara tahunan pada 2026, didorong salah satunya oleh optimalisasi credit scoring berbasis data. Jika tren ini berlanjut, riwayat transaksi digital berpotensi menjadi salah satu aset tak berwujud paling berharga bagi pelaku usaha kecil, sejajar dengan legalitas usaha atau sertifikat produk. Pelaku UMKM yang mulai disiplin mencatat setiap transaksi lewat kanal digital hari ini sedang membangun portofolio kelayakan kredit untuk kebutuhan ekspansi di masa depan.


Pergeseran dari penilaian berbasis agunan ke penilaian berbasis data transaksi membuka jalan yang lebih realistis bagi jutaan UMKM yang selama ini berada di luar radar lembaga keuangan formal. Semakin banyak transaksi tercatat secara digital, semakin besar pula peluang pelaku usaha untuk naik kelas dari sisi pembiayaan.


Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.

(kep/kep)