Di satu sisi, World Economic Forum memproyeksikan terciptanya 149 juta pekerjaan baru di bidang digital pada 2025. Di sisi lain, kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan talenta teknologi justru makin dalam. Banyak bisnis sudah siap bertransformasi, tapi tidak menemukan SDM yang siap menjalankannya.
Dampaknya paling terasa di lapisan UMKM dan bisnis skala menengah, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Target pemerintah untuk mendorong 30 juta UMKM masuk ke ekosistem digital pada 2024 meleset jauh, dengan realisasi yang baru menyentuh angka 12,5 juta. Bukan semata karena masalah infrastruktur atau biaya, tetapi karena sumber daya manusia yang bisa memimpin dan menjalankan transformasi itu memang belum cukup tersedia.
Gambaran ini menjadi konteks yang penting ketika melihat apa yang sedang dilakukan oleh sekolah-sekolah yang lebih dulu berinvestasi pada program STEM berbasis praktik. Tim mekatronika SMAK 5 PENABUR Jakarta, yang berhasil meraih medali emas di kompetisi robotik nasional, adalah satu contoh kecil dari ekosistem yang sedang dibangun, siswa yang tidak hanya belajar teori, tetapi terbiasa berpikir sistematis, bekerja dalam tim bertarget, dan menyelesaikan masalah teknis secara langsung. Profil inilah yang paling dibutuhkan oleh industri saat ini, dan yang paling sulit ditemukan di pasar tenaga kerja.
Dari sudut pandang bisnis, kelangkaan SDM teknologi bukan hanya masalah operasional, ini masalah finansial. Proses rekrutmen yang panjang dan kompetitif untuk posisi digital menekan biaya dan memperlambat eksekusi strategi. Perusahaan yang tidak bisa mengakses talenta berkualitas berisiko tertinggal dari kompetitor yang lebih cepat beradaptasi. Sementara dari sisi UMKM, ketiadaan SDM yang melek teknologi berarti tidak bisa mengoptimalkan platform digital, sistem pembayaran, maupun analitik bisnis yang sebenarnya sudah tersedia dan terjangkau.
Solusi jangka pendek seperti pelatihan intensif dan reskilling karyawan memang penting, tapi tidak cukup untuk menjawab skala masalah yang ada. Yang dibutuhkan adalah pendekatan lebih hulu: memastikan generasi yang kini duduk di bangku sekolah menengah sudah terpapar pada cara berpikir berbasis teknologi sebelum mereka memasuki pasar kerja. Bukan berarti semua harus menjadi insinyur, tetapi mentalitas pemecahan masalah, literasi digital, dan kemampuan berkolaborasi dalam proyek teknis adalah keterampilan lintas profesi yang nilai ekonominya terus meningkat.
Pelaku usaha yang visioner, termasuk yang sedang membangun UMKM atau merintis bisnis baru, sudah mulai memahami bahwa investasi terbaik bukan hanya pada teknologinya, tetapi pada manusia yang bisa mengoperasikan, mengadaptasi, dan mengembangkannya. Dan manusia semacam itu tidak lahir tiba-tiba dari bootcamp enam bulan. Mereka dibentuk dari kebiasaan berpikir yang ditanamkan jauh lebih awal.
Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.
(mlh/mlh)