Daftar Isi
Banyak UMKM dan bisnis skala menengah di Indonesia sebenarnya sudah siap bertransformasi, tapi terganjal satu hal, minim SDM yang bisa memimpin proses itu.
Kesenjangan semacam ini berakar jauh sebelum seseorang terjun ke dunia usaha. Di sinilah pendidikan karakter sejak sekolah menengah jadi relevan. SMPK PENABUR Jakarta, misalnya, membawa siswanya keluar dari ruang kelas lewat program "Spirit of Adventure" di Desa Tosari, kaki Gunung Bromo, tempat mereka dilatih memimpin diri sendiri sebelum nantinya diharapkan mampu memimpin tim atau usaha.
Kenapa Kepemimpinan Jadi Barang Langka di UMKM?
Memimpin transformasi bisnis butuh lebih dari sekadar paham teknologi, dibutuhkan keberanian mengambil keputusan di tengah ketidakpastian dan kemampuan menggerakkan orang lain menuju arah baru. Kompetensi semacam ini sulit didapat instan lewat pelatihan singkat kalau fondasinya tidak dibangun sejak masa sekolah, saat seseorang masih punya banyak ruang untuk mencoba dan gagal dengan risiko kecil.
Apa Peluang bagi Pelaku UMKM yang Bergerak Lebih Dulu?
UMKM yang sadar akan kesenjangan ini bisa mengambil langkah lebih awal, misalnya dengan merekrut atau membina talenta muda yang terbiasa dengan pengalaman lapangan dan pengambilan keputusan mandiri. Pelaku usaha semacam ini biasanya lebih siap beradaptasi ketimbang menunggu SDM siap pakai yang jumlahnya memang masih terbatas di pasar tenaga kerja.
Bagaimana Ini Berdampak pada Ekonomi Nasional?
Jika kesenjangan kepemimpinan di level UMKM dan bisnis menengah ini terus dibiarkan, potensi pertumbuhan ekonomi dari sektor yang menjadi tulang punggung nasional ini berisiko tumbuh lebih lambat dari yang seharusnya bisa dicapai.
Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.