Biaya Energi Jadi Beban Bisnis? PLTS 100 GW Bisa Jadi Solusi


Kamis, 27 Aug 2026 21:30 WIB
Ketergantungan BBM membebani biaya operasional, sementara PLTS 100 GW di Bali diharapkan bantu UMKM dan tekan emisi.
Foto: Ecoportal
Jakarta -

Ketergantungan pada bahan bakar minyak masih membebani biaya operasional banyak pelaku usaha di daerah, terutama di wilayah yang pasokan listriknya masih mengandalkan pembangkit diesel. Data Kementerian ESDM mencatat sekitar 12,6 Gigawatt kapasitas listrik nasional masih menggunakan tenaga diesel dengan konsumsi solar mencapai 230 ribu hingga 250 ribu barel per hari, beban yang pada akhirnya tercermin pada tarif listrik dan biaya produksi di berbagai sektor usaha.

Pemerintah baru saja meresmikan groundbreaking proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya berkapasitas 100 Gigawatt peak di Gilimanuk, Bali, sebagai langkah awal mengurangi ketergantungan tersebut. Tahap pertama proyek ini menyasar 14 lokasi PLTS di Jawa Barat, Jawa Timur, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau dengan kapasitas 5,3 Gigawatt peak, sementara wilayah Bali sendiri kebagian jatah 1.000 megawatt yang sudah terintegrasi dengan sistem penyimpanan baterai.

Kenapa Pelaku Usaha di Daerah Terpencil Perlu Memperhatikan Program Ini?

Banyak daerah yang selama ini belum menikmati akses listrik memadai akan menjadi target penetrasi program 100 Gigawatt peak bersama inisiatif listrik masuk desa. Bagi UMKM di kawasan tersebut, ketersediaan listrik yang lebih stabil dapat membuka peluang usaha baru yang sebelumnya terkendala keterbatasan daya, mulai dari usaha pengolahan makanan, jasa digital, hingga UMKM berbasis mesin produksi kecil.

Ketertinggalan infrastruktur energi selama ini kerap menjadi alasan pelaku usaha di luar Jawa enggan mengembangkan kapasitas produksi. Momentum transisi energi ini berpotensi mengubah kalkulasi tersebut apabila pemerataan pembangkit berjalan sesuai target waktu yang ditargetkan.

Apa Risiko bagi Bisnis yang Terlambat Beradaptasi dengan Tren Energi Bersih?

Konversi dari pembangkit diesel ke energi surya juga berkaitan dengan tekanan pasar global terhadap produk ramah lingkungan. Program ini diproyeksikan menurunkan emisi karbon hingga 140 juta ton CO2 per tahun dengan nilai ekonomi karbon sebesar Rp 6,31 triliun, sebuah angka yang menunjukkan arah kebijakan energi nasional semakin serius menuju dekarbonisasi.

Pelaku usaha yang bergantung pada rantai pasok ekspor, khususnya ke pasar yang menerapkan standar jejak karbon ketat, perlu mencermati tren ini lebih awal. Bisnis yang belum menyesuaikan sumber energi operasionalnya berisiko kehilangan daya saing dibanding kompetitor yang lebih dulu beralih ke energi bersih.

Bagaimana Arah Kebijakan Energi Nasional Selanjutnya?

Presiden Prabowo Subianto optimistis target 100 Gigawatt peak bisa tercapai dalam waktu kurang dari tiga tahun. Kecepatan implementasi ini menjadi sinyal bagi pelaku usaha untuk mulai menyesuaikan perencanaan energi jangka panjang, alih-alih menunggu hingga infrastruktur benar-benar merata.

Transisi energi yang berjalan cepat sering kali menyisakan sedikit waktu bagi pelaku usaha untuk beradaptasi. Menyiapkan strategi lebih awal, baik dari sisi efisiensi energi maupun pemanfaatan peluang di rantai pasok, akan menentukan siapa yang lebih siap menghadapi perubahan lanskap energi nasional ini.

Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.

(srz/srz)