Produk Digital Personal Jadi Ceruk Baru! Peluang Ekonomi Kreatif UMKM dari Daerah


Minggu, 02 Aug 2026 22:52 WIB
Ekonomi kreatif di Indonesia tumbuh pesat, dengan kontribusi 7,28% terhadap PDB. Peluang produk digital personal menjanjikan bagi UMKM, terutama dari daerah.
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Ekonomi kreatif kini menjelma menjadi salah satu mesin pertumbuhan paling stabil di Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto mencapai Rp1.611,2 triliun atau 7,28 persen pada 2024, dengan laju pertumbuhan 6,57 persen yang melampaui ekonomi nasional di angka 5,03 persen. Di balik angka besar itu, tumbuh kategori produk baru berupa pengalaman yang dikemas secara digital.


Pergeseran ini terlihat dari cara konsumen muda menilai sebuah produk. Mereka tidak lagi berhenti pada fungsi atau harga, tetapi mencari kedekatan emosional dan cerita yang melekat pada apa yang mereka beli. Kebutuhan menyampaikan momen personal, mulai dari ucapan terima kasih hingga permintaan maaf, menciptakan celah pasar yang belum banyak digarap pelaku usaha.

Laubloom, platform kado digital asal Kabupaten Malang, menjadi salah satu contoh bagaimana ide sederhana berbasis emosi bisa dikembangkan menjadi produk bernilai jual.


Kenapa Produk Digital Personal Jadi Peluang Menjanjikan buat UMKM?

Daya tarik utama kategori ini terletak pada modal awal yang relatif ringan. Produk digital tidak memerlukan stok, gudang, atau rantai pasok yang panjang, sehingga pelaku usaha bisa memulai dengan sumber daya terbatas. Kemajuan teknologi tanpa kode juga memungkinkan siapa pun merakit produk digital tanpa keahlian pemrograman.


Pemerintah bahkan menempatkan aplikasi sebagai salah satu subsektor prioritas ekonomi kreatif, sejajar dengan film dan gim. Posisi ini menandakan produk berbasis perangkat lunak dipandang punya nilai tambah tinggi dan daya saing global. Bagi UMKM, ceruk seperti ini menawarkan margin yang lebih sehat karena nilai produk ditentukan oleh pengalaman, bukan hanya biaya bahan baku.


Bagaimana Pelaku Usaha Daerah Bisa Masuk ke Ceruk Ini?

Sektor ekonomi kreatif menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja pada 2025, atau 18,70 persen dari total tenaga kerja nasional, dengan mayoritas berasal dari generasi Z dan milenial. Komposisi ini menjadi keuntungan karena pelaku usaha muda umumnya akrab dengan platform digital dan cepat menangkap perubahan selera pasar.


Keunggulan lain, ekonomi kreatif tumbuh dari daerah dan tidak terpusat di kota besar. Kehadiran pelaku usaha kado digital dari Kabupaten Malang memperlihatkan akses pasar kini ditentukan oleh koneksi internet dan ide, bukan lokasi geografis. Dengan strategi konten dan distribusi yang tepat, produk dari kota kecil bisa menjangkau konsumen di seluruh Indonesia.


Ke Mana Arah Peluang Ini Bergerak?

Pemerintah menargetkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB naik hingga 8 persen dalam lima tahun ke depan. Target ini menuntut lahirnya lebih banyak kategori produk baru, termasuk yang menggabungkan elemen fisik dan digital dalam satu penawaran.


Bagi pelaku usaha, momentum ini menjadi undangan untuk memikirkan ulang bentuk produk yang ditawarkan. Kategori berbasis emosi dan personalisasi diperkirakan terus tumbuh seiring perubahan perilaku konsumen muda yang mengutamakan makna di balik sebuah pembelian.


Peluang di ekonomi kreatif digital tidak lagi menjadi milik segelintir perusahaan besar. Selama pelaku usaha mampu membaca kebutuhan emosional konsumen dan mengemasnya dalam produk yang relevan, ruang untuk bertumbuh terbuka lebar, bahkan dari kota kecil sekalipun.


Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.

(kep/kep)