HUT ke-72, UM Perkuat Fondasi Akademik-Perluas Dampak Bagi Masyarakat


Story by Universitas Negeri Malang

Senin, 19 Oct 2026 13:00 WIB
Universitas Negeri Malang Dies Natalis ke-72 momentum memperkuat fondasi akademik meningkatkan kualitas tata kelola & perluas manfaat pendidikan bagi masyarakat
Diusia yang ke 72th, UM memperkuat komitmen dalam meningkatkan kualitas tata kelola kelembagaan
Jakarta -

Universitas Negeri Malang (UM) menjadikan peringatan Dies Natalis ke-72 sebagai momentum untuk memperkuat fondasi akademik, meningkatkan kualitas tata kelola, dan memperluas manfaat pendidikan tinggi bagi masyarakat. Komitmen tersebut disampaikan dalam upacara peringatan yang berlangsung di Graha Cakrawala UM, Minggu (18/10/2026), dengan mengusung tema “Sehat, Bergerak, Berdampak, dan Berkelanjutan”.

Kegiatan ini dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., yang merupakan alumni pascasarjana UM. Hadir pula perwakilan DPRD Kota Malang, Ketua Senat Akademik, Direktur Kelembagaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta dosen, tenaga kependidikan, dan mitra universitas.

Rektor UM Prof. Hariyono dalam pidato dies natalis UM ke-72th mengingatkan pentingnya integritasRektor UM Prof. Hariyono dalam pidato dies natalis UM ke-72th mengingatkan pentingnya integritas

Rektor UM Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menjelaskan bahwa perjalanan UM selama lebih dari tujuh dekade mencerminkan perubahan besar dalam pengembangan institusi. Berawal sebagai lembaga pencetak tenaga kependidikan, UM kini berkembang menjadi universitas dengan bidang keilmuan yang semakin beragam dan berstatus Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH).

Perubahan tersebut, menurut Hariyono, perlu diimbangi dengan kapasitas kelembagaan yang kuat agar universitas mampu mengelola sumber daya secara mandiri sekaligus menjawab tantangan pendidikan tinggi. Pengembangan kualitas dosen, peningkatan mutu pembelajaran, penguatan penelitian, dan perluasan jejaring internasional menjadi bagian dari strategi tersebut.

UM mencatat memiliki 164 guru besar dan 579 dosen berkualifikasi doktor. Dukungan terhadap kegiatan penelitian juga terus ditingkatkan. Anggaran penelitian internal yang mencapai Rp45 miliar pada 2024 meningkat menjadi Rp57 miliar pada 2026. Selain itu, sebanyak 47 program studi telah mengantongi akreditasi internasional untuk memperkuat daya saing akademik di tingkat global.

Meski demikian, Hariyono menekankan bahwa keberhasilan institusi tidak cukup diukur melalui capaian akademik dan pengakuan internasional. Integritas, tanggung jawab kepemimpinan, serta orientasi pelayanan harus menjadi bagian dari budaya organisasi. Dengan prinsip tersebut, pengelolaan universitas diharapkan semakin efektif dan mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas.

Sementara itu, Fauzan dalam orasi ilmiahnya menggarisbawahi perlunya perguruan tinggi memastikan bahwa kegiatan akademik memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Momentum Dies Natalis, menurutnya, dapat dimanfaatkan untuk menilai sejauh mana pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat telah menghasilkan kontribusi bagi penyelesaian persoalan sosial, ekonomi, dan industri.

“Alih-alih berjalan sendiri-sendiri, pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat harus dilebur dalam satu kesatuan untuk menyelesaikan masalah nyata di industri atau daerah. Mahasiswa dilibatkan langsung dalam proyek riset dosen sebagai bagian dari tugas akhir atau magang, sehingga mereka terbiasa memecahkan masalah di masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Fauzan.

Integrasi ketiga unsur tridarma perguruan tinggi tersebut membuka peluang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman pemecahan masalah secara langsung. Di sisi lain, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat dapat memperkuat penerapan hasil penelitian sehingga manfaatnya tidak berhenti pada publikasi ilmiah.

Arah pengembangan UM tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Peningkatan kualitas pembelajaran dan penguatan kapasitas penelitian diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang kompeten sekaligus mendorong pengembangan inovasi yang bermanfaat bagi pembangunan.

Menutup sambutannya, Hariyono mengajak seluruh sivitas akademika dan mitra universitas untuk mengambil bagian dalam menjaga keberlanjutan kemajuan UM. Ia menekankan bahwa perubahan institusi membutuhkan kerja bersama agar pencapaian yang telah diraih dapat terus dikembangkan.

“UM yang sehat harus kita jaga, UM yang bergerak harus kita percepat, UM yang berdampak harus kita perluas, dan UM yang berkelanjutan harus kita wariskan,” tegasnya.

Dimalam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan Pagelaran Sendratari Raja Sinatriya di Graha Cakrawala UM yang bertemakan “Tumbuhnya Suryapura, Lahirnya Karna”, pagelaran ini menjadi wujud kebersamaan sivitas akademika dalam mendukung kemajuan UM melalui seni dan budaya. Kegiatan ini menjadi bentuk kolaborasi berbagai unsur di lingkungan kampus mulai dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan dan pimpinan untuk bergerak bersama memajukan UM

Pagelaran Sendratari Raja Sinatriya menjadi ajang kolaborasi sivitas akademika untk bergerak bersamaPagelaran Sendratari Raja Sinatriya menjadi ajang kolaborasi sivitas akademika untk bergerak bersama

Peringatan Dies Natalis ke-72 ini menegaskan arah pengembangan UM yang tidak hanya berfokus pada penguatan institusi, tetapi juga pada relevansi pendidikan tinggi terhadap tantangan masyarakat. Melalui tata kelola yang berintegritas, peningkatan mutu akademik, dan pengembangan riset, UM berupaya memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi yang mampu menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan sumber daya manusia berkualitas.

Semangat “Sehat, Bergerak, Berdampak, dan Berkelanjutan” menjadi pijakan bagi UM untuk melanjutkan transformasi sekaligus memperluas kontribusinya dalam mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.