Perkuat Relasi, FS UM Gelar Summer Course on Sastra Melayu 2026


Story by Universitas Negeri Malang

Kamis, 21 May 2026 19:03 WIB
Universitas Negeri Malang (UM) kembali memperkuat perannya dalam diplomasi budaya internasional melalui penyelenggaraan Summer Course on Sastra Melayu 2026
FS UM Dorong Terciptanya Ekosistem Kampus Inklusif dan Berwawasan Internasional
Jakarta -

Universitas Negeri Malang (UM) kembali memperkuat perannya dalam diplomasi budaya internasional melalui penyelenggaraan Summer Course on Sastra Melayu 2026 yang digelar Fakultas Sastra. Program ini menjadi wadah bagi mahasiswa mancanegara untuk mendalami khazanah sastra Melayu sekaligus mengenal kekayaan budaya Indonesia dalam konteks ASEAN.

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid pada Rabu-Sabtu, 22–25 April 2026 tersebut mengusung tema Literature as Cultural Bridge: Celebrating the Spirit of Sastra Melayu in ASEAN. Melalui tema itu, peserta diajak memahami sastra Melayu sebagai jembatan budaya yang tetap relevan di tengah perkembangan masyarakat modern ASEAN.

Sebanyak 141 peserta dari Thailand, China, Pakistan, Sudan, dan India mengikuti rangkaian kegiatan akademik dan budaya yang diselenggarakan Fakultas Sastra UM. Program ini sekaligus menjadi upaya internasionalisasi kampus melalui penguatan kolaborasi budaya dan literasi global.

Dekan Fakultas Sastra UM menilai kegiatan ini bukan sekadar forum akademik, melainkan sarana memperkenalkan identitas budaya Indonesia kepada dunia internasional melalui sastra.

Hari pertama diisi dengan public lecture bersama akademisi dan praktisi sastra yang membahas perkembangan sastra Melayu dalam penulisan modern hingga isu perempuan dalam karya sastra. Sesi keynote lecture menghadirkan Dr. Shivani Sivagurunathan dari University of Nottingham Malaysia serta Prof. Evi Eliyanah dari Universitas Negeri Malang.

Selain itu, sesi featured speech turut menghadirkan Andre Septiawan, emerging writer Ubud Writers and Readers Festival, dan Dr. Varavejbhisis Yossiri dari YRU Thailand. Kehadiran para pembicara lintas negara memperkaya perspektif peserta terkait perkembangan sastra dan budaya di kawasan Asia Tenggara.

Memasuki hari kedua, peserta disuguhkan pertunjukan sastra dan budaya yang menampilkan pembacaan puisi oleh Prof. Yuni Pratiwi, musikalisasi puisi dari Griya Sastra Puisi, tari tradisional oleh Gita Lenggang Tari, hingga drama “Sibottar Mudar” yang dipentaskan Teater Pelangi.

Drama tersebut mengangkat kisah Siboru Namotung yang menikah dengan makhluk gaib Guru Sodungdangon. Konflik ambisi Raja Barus dalam cerita itu menggambarkan konsekuensi pilihan hidup sekaligus asal-usul hubungan leluhur Pasaribu dan Simamora.

Tak hanya menikmati pertunjukan seni, peserta juga mengikuti lokakarya gamelan dan keramik sebagai pengalaman belajar budaya secara langsung.

Pada hari ketiga, peserta diajak menelusuri jejak sejarah di Candi Singosari dan Museum Singhasari. Dalam kunjungan tersebut, peserta mempelajari sejarah Kerajaan Tumapel serta kisah Ken Arok dan Ken Dedes. Mereka juga berkesempatan melihat secara langsung berbagai benda bersejarah, termasuk keris berusia ratusan tahun.

Sementara itu, hari terakhir ditutup dengan proyek penulisan puisi sebagai refleksi pengalaman peserta selama mengikuti Summer Course. Karya sastra tersebut dipresentasikan di hadapan peserta dan panitia sebagai bentuk ekspresi budaya dan hasil pembelajaran lintas negara.

Ketua pelaksana kegiatan menyebut program ini diharapkan mampu memperluas pemahaman peserta terhadap sastra Melayu sekaligus mempererat jejaring akademik internasional.

“Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya belajar sastra Melayu, tetapi juga memahami keberagaman budaya ASEAN secara lebih mendalam,” ujarnya.

Program Summer Course on Sastra Melayu 2026 juga sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 4 tentang pendidikan berkualitas dan poin 17 mengenai kemitraan global. Melalui kolaborasi lintas budaya dan negara, Fakultas Sastra UM mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang inklusif, berkelanjutan, dan berwawasan internasional.