Perputaran Uang Haji Rp18,2 Triliun, Ini Peluang UMKM


Senin, 26 Oct 2026 18:02 WIB
Ekonomi haji dan umrah membuka peluang UMKM melalui rantai pasok kebutuhan jemaah dengan potensi Rp18,2 triliun.
Foto: ANTARA FOTO/Citro Atmoko
Jakarta -

Ekonomi haji dan umrah membuka peluang bisnis bagi UMKM di Indonesia. Potensi ekonomi dari kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia pada 2026 diproyeksikan mencapai Rp18,2 triliun, dengan kuota sebanyak 221.000 jemaah. Kebutuhan jemaah mencakup penerbangan, akomodasi, konsumsi, hingga perlengkapan ibadah. Besarnya potensi tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk terlibat dalam rantai pasok kebutuhan haji dan umrah.

Peluang itu mulai terlihat melalui berbagai inisiatif pemerintah, termasuk pelibatan UMKM dalam penyediaan produk untuk kebutuhan jemaah. Pengadaan bumbu dan makanan dari Indonesia untuk konsumsi jemaah di Arab Saudi menjadi salah satu peluang bagi produsen lokal. Selain itu, pameran produk UMKM yang terintegrasi dengan kegiatan manasik haji turut membuka akses pemasaran bagi produk seperti koper, kain ihram, mukena, makanan, dan oleh-oleh. Pemerintah juga menyiapkan platform digital agar jemaah dapat memesan oleh-oleh sebelum keberangkatan dan menerima produk langsung di rumah.

Pameran industri halal juga menjadi salah satu saluran untuk mempertemukan pelaku usaha dengan calon konsumen. Salah satunya melalui pameran yang berlangsung pada 23-25 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), dengan lebih dari 400 tenant dan target transaksi Rp5 triliun. Dalam kesempatan tersebut, penyelenggara perjalanan ibadah NRA Group turut menawarkan promo perjalanan haji dan umrah, berupa diskon umrah hingga Rp2,5 juta dan diskon haji sebesar US$500. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pameran dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk memperluas jangkauan pemasaran sekaligus menawarkan produk dan layanan kepada calon pelanggan.

Bagaimana UMKM Bisa Masuk Rantai Pasok Haji dan Umrah?

Kategori yang berpotensi dimanfaatkan UMKM dalam ekosistem haji dan umrah meliputi konsumsi, perlengkapan ibadah, dan oleh-oleh. Kementerian Haji dan Umrah juga menyoroti pentingnya mengidentifikasi UMKM yang berpeluang memasok produk oleh-oleh haji. Untuk mempersiapkan diri, pelaku usaha dapat melengkapi profil bisnis, menjaga kualitas produk, serta menyesuaikan kapasitas produksi dengan peningkatan permintaan saat musim haji. Kemasan yang aman untuk perjalanan juga perlu diperhatikan agar produk tetap terjaga hingga sampai ke konsumen. Selain itu, pelaku usaha sebaiknya menyiapkan legalitas dan persyaratan produk yang relevan, termasuk izin edar dan sertifikasi halal sesuai jenis produknya. Jika kapasitas produksi masih terbatas, kerja sama dengan UMKM lain dapat menjadi alternatif untuk memenuhi permintaan.

Apa yang Bisa Dipelajari Bisnis dari Strategi Pameran?

Pameran memampatkan tahapan penjualan. Calon pembeli melihat produk, membandingkan harga, dan memutuskan transaksi dalam satu kunjungan. Penawaran dengan batas waktu, seperti diskon khusus selama pameran, mendorong keputusan lebih cepat karena pembeli tahu kesempatannya terbatas. Dari sisi keuangan, bisnis perlu menghitung margin setelah diskon dan biaya booth agar kenaikan volume transaksi tidak menggerus keuntungan. Pelaku usaha yang menyiapkan stok, tim penjualan, dan data kontak pengunjung akan memetik hasil setelah pameran selesai, tidak hanya saat acara berlangsung.

Seberapa Besar Peluang Ekspor dari Ekosistem Haji dan Umrah?

Pasar potensial produk haji dan umrah tidak terbatas pada jemaah Indonesia. Peluang ekspor juga terbuka melalui penyediaan makanan dan berbagai kebutuhan jemaah dari negara lain. Potensi ini didukung oleh jumlah jemaah umrah Indonesia yang mencapai lebih dari dua juta orang setiap tahun, sehingga kebutuhan produk dan layanan terkait ibadah umrah berlangsung sepanjang tahun, tidak hanya saat musim haji.

Besarnya permintaan tersebut membuka peluang bagi UMKM untuk memperluas pasar melalui rantai pasok kebutuhan haji dan umrah. Dukungan pemerintah, platform pemasaran, serta pameran produk dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk kepada calon pembeli dan mitra bisnis. Dengan mempersiapkan kualitas produk, kapasitas produksi, dan legalitas sejak awal, pelaku UMKM berpeluang menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.

Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.

(srz/srz)