Kurasi Kopi Jadi Kunci Bisnis F&B di Tengah Persaingan


Senin, 28 Sep 2026 20:00 WIB
Kurasi produk dan diversifikasi menu jadi kunci bisnis kopi di Indonesia, seiring pasar yang terus berkembang.
Foto: Instagram/bainianfoodcourt)
Jakarta -

Kurasi produk yang konsisten menjadi salah satu strategi bagi pelaku usaha kopi untuk mempertahankan kualitas di tengah persaingan pasar yang semakin padat. Data International Coffee Organization (ICO) yang dikutip Kementerian Perindustrian mencatat konsumsi kopi Indonesia tumbuh 50,02 persen dalam sepuluh tahun terakhir. Sementara itu, survei Jakpat 2026 menunjukkan 58 persen responden mengonsumsi kopi setidaknya sekali sehari. Besarnya tingkat konsumsi tersebut menunjukkan pasar kopi Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan, sekaligus membuat pelaku usaha perlu memperhatikan kualitas dan karakter produk yang ditawarkan.

Salah satu contoh pendekatan yang mengedepankan kurasi adalah kedai WDT Coffee di kawasan Pluit, Jakarta Utara. Kedai ini memilih lokasi di area courtyard, bukan di jalan utama yang ramai. Meski mengusung suasana yang lebih santai, fokus pada kualitas kopi tetap menjadi bagian utama dari konsepnya. Biji kopi yang digunakan dikurasi dengan mempertimbangkan kualitas, karakter rasa, konsistensi, hingga cara penyajiannya.

Bagaimana Kurasi Produk Bisa Menjadi Strategi Bisnis?

Bagi pelaku UMKM kuliner, kurasi produk tidak hanya berkaitan dengan rasa, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun identitas dan konsistensi bisnis. Di tengah meningkatnya konsumsi kopi, konsumen semakin memiliki banyak pilihan, sehingga karakter produk menjadi salah satu aspek yang dapat membedakan sebuah usaha dari kompetitornya.

Kementerian Perindustrian mencatat meningkatnya konsumsi kopi turut mendorong konsumen menjadi lebih selektif terhadap kualitas, cita rasa, dan keunikan sajian. Proses pengolahan, termasuk penyangraian biji kopi, menjadi salah satu tahapan penting yang menentukan mutu produk akhir.

Dengan demikian, kurasi dapat diterapkan mulai dari pemilihan biji, profil rasa, metode penyajian, hingga konsistensi produk. Pendekatan tersebut membantu pelaku usaha menjaga standar produk sekaligus membangun pengalaman yang lebih mudah dikenali pelanggan.

Kenapa Diversifikasi Menu Penting bagi Pelaku Usaha Kuliner?

Selain mempertahankan produk utama, diversifikasi menu dapat menjadi cara bagi bisnis kuliner untuk menjangkau konsumen dengan preferensi berbeda. WDT, misalnya, tidak hanya menghadirkan pilihan berbasis kopi seperti Dirty Coco, Mont Blanc, WDT Bomb, dan Sea Salt Latte, tetapi juga menambahkan Tea Cloud dan Ube Matcha sebagai alternatif non-kopi.

Kehadiran pilihan tersebut menunjukkan bahwa diversifikasi menu tidak selalu berarti meninggalkan identitas utama sebuah kedai. Produk inti tetap dapat menjadi fondasi, sementara menu tambahan memberi ruang bagi pelanggan dengan selera berbeda untuk tetap menikmati pengalaman yang ditawarkan.

Berdasarkan analisis Redseer yang dipublikasikan pada Desember 2024, pasar kopi Indonesia diproyeksikan tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sekitar 11 persen hingga 2030. Dalam proyeksi tersebut, kategori foodservice roast coffee menjadi salah satu segmen yang diperkirakan mengalami pertumbuhan tinggi.

Proyeksi tersebut menunjukkan potensi pertumbuhan pasar kopi dalam beberapa tahun mendatang. Bagi pelaku usaha, kondisi ini dapat menjadi ruang untuk mengembangkan produk secara terukur, baik melalui inovasi menu maupun penguatan karakter produk yang sudah dimiliki.

Apa Peluang Jangka Panjang bagi Pelaku Usaha Kopi Lokal?

UMKM menjadi bagian penting dalam perekonomian Indonesia. Data yang disampaikan dalam pembukaan Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 menyebutkan jumlah pelaku UMKM mencapai sekitar 64 juta, dengan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap PDB nasional dan penyerapan sekitar 97 persen tenaga kerja.

Di sisi industri kopi, Indonesia juga memiliki posisi penting di pasar global. Kementerian Perindustrian mencatat ekspor produk kopi olahan pada 2025 mencapai US$692 juta atau sekitar Rp12,33 triliun. Pada saat yang sama, Indonesia disebut sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia.

Besarnya konsumsi domestik, kontribusi UMKM, serta posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kopi dunia memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk mengembangkan produk bernilai tambah. Bagi kedai kopi skala kecil dan menengah, penguatan kualitas produk, kurasi menu, dan diversifikasi yang tetap selaras dengan identitas usaha dapat menjadi bagian dari strategi menghadapi persaingan.

Pada akhirnya, pertumbuhan pasar kopi tidak hanya membuka peluang untuk menambah jumlah pelaku usaha, tetapi juga mendorong persaingan yang semakin beragam. Dalam kondisi tersebut, kemampuan menjaga kualitas sekaligus menawarkan pilihan yang relevan bagi konsumen menjadi salah satu aspek yang dapat diperhatikan oleh pelaku bisnis F&B.

Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.

(srz/srz)