Daftar Isi
Rehabilitasi medis menjadi salah satu peluang dalam ekosistem bisnis kesehatan di Indonesia seiring bertambahnya populasi lansia dan kebutuhan terhadap layanan pemulihan. Badan Pusat Statistik mencatat 11,97 persen penduduk Indonesia berusia 60 tahun ke atas pada 2025, menandakan Indonesia telah berada dalam fase ageing population. Proyeksi yang dikutip detikHealth menyebut jumlah lansia meningkat dari 34,8 juta jiwa pada 2024 menjadi 65,8 juta jiwa pada 2045.
Potensi ekonominya juga terlihat dari masyarakat yang masih mengakses layanan kesehatan di luar negeri. Pemerintah memperkirakan sekitar 2 juta WNI berobat ke luar negeri setiap tahun dengan potensi devisa yang keluar sekitar Rp150 triliun. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 93,5 persen rumah tangga yang mengakses layanan kesehatan di luar negeri menilai fasilitas kesehatan di sana lengkap. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kebutuhan terhadap layanan kesehatan yang lebih lengkap di dalam negeri.
Sejumlah rumah sakit mulai menjawab kebutuhan itu di segmen pemulihan. RS Pantai Indah Kapuk (RS PIK) memperkuat layanan lewat Rehabilitation Center dan kerja sama dengan SW Rehabilitation Center untuk rehabilitasi neuromuskuloskeletal, yaitu penanganan gangguan otot, saraf, dan tulang belakang. Kerja sama itu diresmikan pada 16 September 2026.
Mengapa Rehabilitasi Medis Menarik bagi Pelaku Bisnis Kesehatan?
Layanan rehabilitasi berjalan dalam rangkaian sesi. Pasien pascastroke, pascaoperasi, atau cedera tulang belakang menjalani program bertahap, sehingga pendapatan layanan lebih mudah diproyeksikan dibanding layanan sekali kunjungan. Kementerian Kesehatan memperkirakan total belanja sektor kesehatan nasional sekitar US$40 miliar, dan segmen spesialis pemulihan fungsi tubuh berpeluang mengambil bagian dari angka itu.
Peluangnya meluas ke luar rumah sakit. UMKM dapat masuk lewat penyediaan alat bantu latihan, jasa fisioterapi panggilan, katering diet pascastroke, perlengkapan ortopedi, atau aplikasi penjadwalan terapi. Setiap pasien membawa kebutuhan pendamping yang berulang, dan kebutuhan itu membuka pasar bagi pemain kecil yang cepat beradaptasi.
Bagaimana Kolaborasi Rumah Sakit dan Mitra Spesialis Mengubah Persaingan?
Peralatan rehabilitasi berteknologi tinggi membutuhkan belanja modal besar dan operator terlatih. Di RS PIK, peralatan seperti 3D Newton, Biodex, dan GTS Gait Training System dipakai untuk melatih otot, keseimbangan, dan pola berjalan. Kemitraan dengan operator spesialis membagi beban investasi itu dan mempersingkat waktu rumah sakit untuk menawarkan layanan baru.
Klinik dan pemilik usaha kesehatan skala menengah dapat memakai pola serupa. Anda bisa menggandeng terapis independen, produsen alat, atau klinik spesialis untuk membuka lini layanan baru dengan risiko modal yang lebih rendah. Pelaku usaha yang mengukur utilisasi alat dan tingkat kunjungan ulang sejak awal akan lebih cepat menilai apakah lini itu layak diperluas.
Ke Mana Arah Pasar Rehabilitasi Medis dalam 20 Tahun ke Depan?
Rasio penduduk usia produktif terhadap lansia akan menyempit. detikHealth mengutip proyeksi bahwa pada 2045 satu lansia ditanggung 3,2 orang usia produktif, turun dari 5,6 orang pada 2024. Hanya 5 persen lansia yang memiliki pensiun, sehingga biaya perawatan dapat menjadi beban keluarga. Layanan yang membantu lansia tetap mandiri lebih lama meringankan beban itu dan menjaga anggota keluarga tetap produktif.
Rehabilitasi medis berpeluang berkembang dari layanan penunjang menjadi segmen bisnis tersendiri seiring penuaan penduduk dan permintaan layanan pemulihan yang lengkap di dalam negeri. Pelaku usaha yang menyiapkan kapasitas, kemitraan, dan rantai pasok lebih awal akan punya posisi lebih kuat ketika permintaan itu naik.
Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.