Wirausaha RI Tertinggal, Ini Cara Kampus Cetak Pengusaha Muda


Rabu, 09 Sep 2026 22:12 WIB
Rasio wirausaha RI dapat didorong lewat pendidikan bisnis praktis di kampus.
Foto: iStock
Jakarta -

Rendahnya rasio wirausaha Indonesia bisa diatasi salah satunya lewat pendidikan yang mengajak mahasiswa mempraktikkan bisnis secara langsung sejak awal kuliah. Data hingga Februari 2026 menunjukkan rasio wirausaha mapan Indonesia baru mencapai 3,43 persen dari total angkatan kerja, masih di bawah Malaysia 4,74 persen, Thailand 4 persen, dan Singapura 8,76 persen. Di sisi lain, sekitar 2,9 juta penduduk usia kerja memasuki pasar kerja setiap tahun, sehingga kebutuhan akan wirausaha baru semakin mendesak.

Salah satu pendekatan yang bisa menjadi referensi diterapkan Universitas Ciputra Jakarta melalui program Selling Day, bagian dari rangkaian Orientation Week 2026. Dalam kegiatan yang digelar di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ratusan mahasiswa baru terjun langsung merancang, memproduksi, hingga memasarkan produk kepada masyarakat melalui 20 tenant dengan konsep bisnis beragam.

Pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana kampus dapat memberikan pengalaman bisnis nyata sejak awal perkuliahan, sehingga mahasiswa tidak harus menunggu lulus untuk mengenal langsung dinamika pasar.

Kenapa Pengalaman Bisnis Nyata Penting bagi Mahasiswa?

Bagi pelaku usaha kecil menengah, kesenjangan antara teori dan praktik sering menjadi hambatan utama saat regenerasi tenaga kerja muda. Mahasiswa yang terbiasa merasakan proses bisnis dari nol, mulai dari riset pasar, penentuan konsep produk, hingga interaksi langsung dengan konsumen, akan lebih siap ketika terjun ke dunia UMKM maupun merintis usaha sendiri. Pengalaman semacam ini juga melatih kemampuan adaptasi yang dibutuhkan di tengah perubahan pasar yang cepat, sekaligus membangun kepekaan terhadap respons konsumen secara langsung, sesuatu yang sulit didapatkan hanya dari simulasi kelas.

Selain itu, keterlibatan mahasiswa dalam proses bisnis nyata sejak awal turut membentuk kebiasaan kerja kolaboratif dalam tim. Setiap kelompok biasanya perlu membagi peran, mulai dari produksi, pemasaran, hingga pengelolaan keuangan sederhana, yang pada akhirnya melatih pola pikir manajerial jauh sebelum mereka benar-benar mengelola usaha dalam skala lebih besar.

Apa Dampaknya bagi Ekosistem UMKM dan Ekonomi Nasional?

Saat ini, sebanyak 65,5 juta unit UMKM di Indonesia telah menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional dan berkontribusi sekitar 60 persen terhadap produk domestik bruto. Lahirnya wirausaha baru yang terlatih sejak bangku kuliah berpotensi memperkuat regenerasi pelaku UMKM sekaligus membuka lapangan kerja baru. Semakin banyak lulusan yang punya pengalaman bisnis nyata, semakin besar pula peluang UMKM naik kelas dan bersaing di pasar yang lebih luas.

Bagaimana Peluang Ini Bisa Dimaksimalkan ke Depan?

Kolaborasi antara kampus, pelaku usaha, dan pemerintah menjadi kunci agar rasio kewirausahaan Indonesia bisa mendekati standar negara maju yang berada di kisaran 10 hingga 12 persen. Kurikulum berbasis pengalaman bisnis nyata perlu terus diperluas ke lebih banyak perguruan tinggi, agar generasi muda tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Dukungan dari sisi pembiayaan usaha, akses pasar, dan pendampingan pasca kampus juga penting agar semangat berwirausaha yang dibangun sejak masa kuliah tidak berhenti begitu mahasiswa lulus.

Pendidikan kewirausahaan yang dimulai sejak dini berpotensi menjadi salah satu jawaban atas tantangan rendahnya rasio wirausaha nasional. Ke depan, semakin banyak kampus yang mengadopsi pendekatan serupa akan membantu mempercepat regenerasi pelaku usaha dan memperkuat daya saing ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.

(srz/srz)