Daftar Deals
Shrinkflation adalah praktik produsen mengecilkan ukuran, berat, atau volume produk tanpa menaikkan harga jualnya, sehingga Anda membayar nominal yang sama untuk isi yang lebih sedikit. Secara ekonomi, ini adalah bentuk kenaikan harga riil yang tersembunyi di balik harga nominal yang terlihat stabil di rak toko.
Apa Itu Shrinkflation?
Pengertian Shrinkflation dalam Ekonomi
Istilah shrinkflation berasal dari gabungan kata shrink (menyusut) dan inflation (inflasi). Dalam kerangka ekonomi, fenomena ini mengoreksi harga per unit produk ke atas tanpa mengubah harga per kemasan, sehingga indeks harga konsumen konvensional sering kali terlambat menangkap kenaikan biaya riil yang sesungguhnya Anda tanggung.
Mengapa Shrinkflation Terjadi?
Produsen memilih strategi ini karena kenaikan harga terbuka biasanya memicu penolakan konsumen lebih cepat dibandingkan pengurangan ukuran produk yang halus. Kajian Aljoscha dan Johannes Kasinger yang terbit Oktober 2025 mencatat sekitar 1,92 persen produk mengalami penyusutan ukuran, dengan frekuensi pengurangan ukuran lima kali lebih tinggi dibanding penambahan ukuran, bukti bahwa perusahaan menganggap jalur ini lebih aman untuk menjaga margin.
Penyebab Shrinkflation
Kenaikan Biaya Produksi dan Bahan Baku
Harga plastik kemasan naik akibat gangguan pasokan nafta global, dan pada sejumlah usaha biaya kemasan ini menyerap 10 hingga 15 persen dari harga jual produk. Kenaikan harga elpiji nonsubsidi ukuran 12 kilogram dan 5,5 kilogram yang berlaku sejak 18 April 2026 menambah tekanan biaya operasional, terutama bagi pelaku UMKM sektor makanan dan minuman.
Inflasi dan Tekanan Ekonomi Global
Pelemahan rupiah hingga menembus Rp17.613 per dolar AS pada Mei 2026 mendorong biaya bahan baku impor naik, karena banyak industri masih bergantung pada pasokan luar negeri. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan Indonesia sebesar 3,34 persen pada Juni 2026, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebagai penyumbang andil terbesar terhadap angka tersebut.
Strategi Perusahaan Menjaga Harga Tetap
Bagi tim pemasaran dan manajemen harga di perusahaan consumer goods, mempertahankan titik harga psikologis, seperti Rp10.000 atau Rp15.000, adalah bagian dari arsitektur harga yang sudah tertanam kuat di benak konsumen. Mengubah ukuran produk dianggap lebih aman terhadap ekuitas merek dibandingkan mengubah titik harga yang sudah dikenal luas, meski risiko jangka panjangnya tetap ada jika konsumen menyadari perubahan tersebut.
Contoh Shrinkflation dalam Kehidupan Sehari-hari
Produk Makanan dan Minuman Kemasan
Sebungkus keripik yang dulu berisi 100 gram dengan harga Rp10.000 kini bisa saja tetap dijual Rp10.000, tetapi isinya berkurang menjadi 85 gram. Detikcom bahkan pernah merangkum sembilan potret shrinkflation pada makanan kemasan sebagai bukti nyata fenomena ini di rak minimarket Tanah Air.
Produk Rumah Tangga dan Kebutuhan Harian
Badan Pangan Nasional mencatat potensi shrinkflation juga mengintai komoditas pokok seperti beras dan gula, dipicu kenaikan harga bahan baku plastik untuk kemasannya. Produk rumah tangga seperti tisu, deterjen, dan sabun cuci piring sering mengalami pola serupa, dengan jumlah lembar atau volume yang berkurang secara bertahap.
Perubahan Isi, Ukuran, atau Jumlah Produk
Perubahan ini bisa berupa pengurangan berat bersih, penyusutan volume cairan, pengurangan jumlah keping dalam satu kemasan, atau penambahan ruang kosong di dalam kemasan yang ukurannya tetap sama secara visual.
Dampak Shrinkflation pada Ekonomi
Menurunnya Daya Beli Konsumen
Anda membayar jumlah rupiah yang sama untuk kuantitas barang yang lebih sedikit, yang berarti daya beli riil Anda tergerus meski harga nominal di label tidak berubah. Bagi kelompok berpendapatan menengah bawah, erosi ini terasa lebih berat karena porsi belanja pangan mereka jauh lebih besar dibandingkan kelompok berpendapatan tinggi.
Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat
Ketika harga pangan naik meski hanya 5 hingga 10 persen, kelompok masyarakat berpendapatan menengah bawah cenderung mengurangi konsumsi. Sebagian konsumen beralih ke merek generik atau kemasan yang lebih besar demi mendapatkan harga per unit yang lebih efisien, sebuah pergeseran preferensi yang mengubah peta persaingan antarmerek di rak ritel.
Pengaruh terhadap Persepsi Inflasi
Indeks harga konsumen resmi tidak selalu langsung menangkap perubahan ukuran produk, sehingga angka inflasi yang dipublikasikan bisa terasa lebih rendah dibandingkan tekanan biaya hidup yang sebenarnya Anda rasakan di lapangan. Kesenjangan antara inflasi tercatat dan inflasi yang dirasakan inilah yang membuat shrinkflation sering disebut sebagai inflasi diam-diam.
Cara Mengenali dan Menghadapi Shrinkflation
Membandingkan Harga per Gram atau Liter
Bandingkan harga per 100 gram untuk makanan ringan atau harga per liter untuk produk cair setiap kali berbelanja, bukan hanya melihat harga total yang tertera di label kemasan.
Lebih Teliti Membaca Kemasan Produk
Periksa berat bersih atau volume yang tercantum di kemasan setiap kali membeli produk yang sama secara rutin, karena perubahan kecil pada angka ini sering luput dari perhatian meski bentuk kemasan terlihat identik.
Memilih Alternatif Produk yang Lebih Efisien
Pertimbangkan kemasan ukuran besar jika kebutuhan Anda memang mendukung, atau bandingkan beberapa merek sejenis untuk menemukan rasio harga per unit paling menguntungkan sebelum memutuskan pembelian.
Memahami shrinkflation membantu Anda membuat keputusan belanja yang lebih rasional, sekaligus membantu pelaku usaha membangun strategi harga yang transparan dan berkelanjutan di tengah tekanan biaya yang terus bergerak.
Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.