Daftar Deals
Perubahan perilaku konsumen kini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pelaku usaha di industri kecantikan Indonesia. Meskipun pasar terus membesar dengan pendapatan industri yang naik sekitar 48 persen menjadi kisaran Rp31,77 triliun sepanjang 2021 hingga 2024, pertumbuhan itu tidak otomatis dinikmati semua pelaku usaha. Persaingan justru kian ketat karena jumlah pemain melonjak menjadi lebih dari 1.500 pelaku usaha pada akhir 2025, menurut data Kemenperin bersama BPOM dan Perkosmi.
Salah satu pergeseran yang paling cepat adalah berpindahnya konsumen dari layanan berbasis klinik ke solusi perawatan mandiri. Produk beauty tech rumahan seperti SmoothSkin yang menawarkan IPL hair removal tanpa harus ke klinik menjadi contoh bagaimana satu inovasi dapat mengubah kebiasaan belanja. Bagi usaha yang model bisnisnya bergantung pada kunjungan berulang, perubahan ini bisa menggerus pendapatan jika tidak diantisipasi sejak awal.
Apa Risiko Terbesar bagi UMKM yang Tidak Beradaptasi?
Risiko utamanya adalah relevansi. Konsumen muda yang mendominasi pasar cenderung memilih kepraktisan, privasi, dan efisiensi biaya. Ketika sebuah perangkat memungkinkan perawatan dilakukan kapan saja di rumah, daya tarik layanan konvensional yang menuntut waktu dan biaya berulang bisa menurun. Pelaku usaha yang tidak membaca sinyal ini berisiko kehilangan pelanggan ke kategori produk baru yang dirasa lebih sesuai dengan gaya hidup pasar.
Mengapa Persaingan Harga Bukan Lagi Strategi Aman?
Dengan sekitar 90 persen pelaku industri berskala kecil dan menengah, kompetisi di sektor ini sangat padat. Bertahan hanya dengan menekan harga menjadi strategi yang rapuh, karena selalu ada pemain yang sanggup menawarkan lebih murah. Diferensiasi lewat kualitas, kepercayaan, dan pemahaman kebutuhan konsumen jauh lebih menentukan. Masuknya produk impor juga menambah tekanan, sehingga pelaku lokal perlu memperkuat nilai tambah agar tidak sekadar bersaing pada angka.
Bagaimana Pelaku Usaha Bisa Bertahan dan Tumbuh?
Antisipasi terbaik adalah berhenti memandang teknologi sebagai ancaman dan mulai melihatnya sebagai peluang untuk memperluas penawaran. Usaha berbasis layanan dapat menambahkan lini produk untuk perawatan di rumah, sementara pelaku produk dapat memperkuat edukasi konsumen. Legalitas dan sertifikasi tetap menjadi fondasi yang melindungi usaha dari risiko jangka panjang, terutama ketika kepercayaan konsumen menjadi pembeda utama.
Pasar kecantikan yang membesar memang menggoda, tetapi pertumbuhan itu hanya berpihak pada pelaku usaha yang mau beradaptasi. Membaca arah perilaku konsumen lebih awal adalah cara paling murah untuk memastikan usaha tetap relevan di tengah persaingan yang terus berubah.
Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.