UMKM Siap Menyala Ramadan 2026! Simak Perilaku Konsumen Saat Puasa dan Lebaran


Selasa, 17 Feb 2026 22:11 WIB
Memasuki Ramadan, belanja online meningkat. UMKM fashion dan kuliner dapat memanfaatkan peluang ini dengan strategi yang tepat untuk meningkatkan penjualan.
Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng
Jakarta -

Memasuki bulan Ramadan, pola konsumsi masyarakat mulai bergerak lebih aktif. Kebutuhan Lebaran disiapkan lebih awal, aktivitas belanja meningkat, dan marketplace menjadi salah satu kanal utama yang ramai digunakan.

Mulai dari outfit hari raya hingga makanan untuk sajian tamu, semuanya masuk dalam daftar belanja yang diprioritaskan.

Perubahan kebiasaan ini membuat momentum Ramadan bukan hanya periode konsumsi tinggi, tetapi juga fase penting bagi pelaku usaha untuk meningkatkan penjualan.

Bagi UMKM, momen ini bisa menjadi peluang strategis jika dipersiapkan sejak awal dan disesuaikan dengan perilaku belanja masyarakat yang semakin digital.

Fakta di Lapangan: Konsumen Lebaran Sudah Bergeser ke Online

Perilaku belanja masyarakat saat Ramadan dan Idulfitri kini semakin mengarah ke platform digital. Berdasarkan riset GoodStats, mayoritas masyarakat memilih berbelanja melalui marketplace selama periode Ramadan hingga Lebaran.

Riset yang sama juga menunjukkan bahwa pakaian dan makanan menjadi dua kategori yang paling banyak dibeli. Hal ini menegaskan bahwa kebutuhan utama menjelang Lebaran masih berfokus pada outfit hari raya dan konsumsi, baik untuk keluarga maupun keperluan menjamu tamu.

Dengan kata lain, belanja online saat Ramadan sudah menjadi kebiasaan yang berulang setiap tahun, bukan lagi sekadar tren musiman.

Kenapa Fashion dan Kuliner UMKM Punya Peluang Besar?

Di tengah tingginya permintaan pasar Lebaran, UMKM fashion dan kuliner memiliki peluang yang sangat relevan. Produk lokal cenderung lebih fleksibel, autentik, dan cepat beradaptasi dengan kebutuhan konsumen dibandingkan brand besar yang bergerak dalam skala massal.

Fashion lokal dapat menghadirkan koleksi yang lebih personal dan sesuai dengan selera pasar Indonesia. Sementara itu, produk kuliner UMKM sering kali unggul dari sisi rasa khas dan kedekatan emosional, terutama saat momen kebersamaan seperti Idulfitri.

Konsumen juga semakin terbuka terhadap brand lokal selama kualitas produk, visual, dan pelayanan tetap terjaga. Ini menjadi ruang yang kuat bagi UMKM untuk bersaing dan berkembang di momentum Lebaran.

Pentingnya Mengenali Karakteristik Pembeli

Riset GoodStats menunjukkan bahwa konsumen Ramadan dan Lebaran didominasi oleh Gen Z dan Milenial yang aktif di platform digital.

Kelompok ini terbiasa mencari referensi produk secara online, membandingkan harga, serta mempertimbangkan tampilan visual sebelum membeli.

Mayoritas konsumen juga berasal dari segmen kelas menengah, yang cenderung mencari produk dengan harga terjangkau namun tetap memiliki kualitas yang baik.

Karakter ini membuat strategi produk yang relevan, visual menarik, dan komunikasi yang jelas menjadi faktor penting dalam menarik minat pembeli.

Dengan memahami profil konsumen, pelaku UMKM dapat menyesuaikan strategi penjualan agar lebih tepat sasaran dan tidak sekadar mengikuti tren.

Ramadan Jadi Momentum untuk UMKM Fashion

Permintaan pakaian menjelang Lebaran hampir selalu meningkat setiap tahun. Banyak masyarakat mulai mencari outfit hari raya sejak awal Ramadan sebagai bagian dari persiapan Idulfitri.

Agar dapat memaksimalkan peluang, UMKM fashion dapat mulai menyiapkan:

  1. Koleksi khusus Lebaran yang relevan dengan tren dan kebutuhan keluarga
  2. Foto produk yang rapi dan mencerminkan nuansa hari raya
  3. Ketersediaan stok yang stabil saat permintaan meningkat
  4. Optimasi toko di marketplace sejak awal Ramadan

Persiapan ini membantu produk lebih mudah ditemukan sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen saat berbelanja online.

Persiapan UMKM Kuliner Memanfaatkan Momen Ramadan

Selain pakaian, makanan menjadi kategori yang selalu mengalami peningkatan permintaan selama Ramadan dan Idulfitri. Produk seperti kue kering, snack, hampers, dan oleh-oleh memiliki potensi penjualan yang tinggi karena menjadi bagian dari tradisi Lebaran.

UMKM kuliner dapat memanfaatkan momentum ini dengan menghadirkan produk yang relevan dengan suasana hari raya. Kemasan yang aman, menarik, dan layak kirim juga menjadi nilai tambah yang penting, terutama untuk pembelian online.

Menonjolkan konsep homemade, rasa autentik, dan kualitas bahan dapat menjadi strategi diferensiasi yang efektif di tengah persaingan dengan brand besar.

Waktu Promosi yang Tepat Jadi Kunci Penjualan Optimal

Pola belanja Lebaran umumnya sudah aktif sejak awal Ramadan. Riset GoodStats juga menunjukkan bahwa banyak masyarakat mulai bersiap mudik beberapa hari sebelum Lebaran, yang menandakan kebutuhan belanja sudah direncanakan lebih awal.

Artinya, promosi produk sebaiknya tidak menunggu mendekati hari raya. Aktivitas pemasaran yang dimulai sejak awal hingga pertengahan Ramadan akan lebih efektif karena konsumen berada dalam fase perencanaan dan pencarian produk.

Strategi yang terstruktur sejak awal akan membantu UMKM membangun awareness, menjaga konsistensi penjualan, dan memaksimalkan momentum saat permintaan berada di titik tertinggi.

Pakaian dan makanan tetap menjadi incaran utama saat belanja Lebaran, dengan perilaku konsumen yang semakin bergeser ke platform online. Kondisi ini membuka peluang besar bagi UMKM fashion dan kuliner untuk berkembang dan meningkatkan visibilitas bisnis di momen Ramadan.

Kunjungi FYB detikcom untuk mendapatkan insight bisnis, peluang promosi, serta dukungan ekosistem digital yang relevan bagi pelaku UMKM!

Ingin meningkatkan awareness dan penjualan di momen Ramadan? Beriklan di FYB detikcom bisa jadi langkah strategis untuk menjangkau audiens lebih luas secara tepat sasaran.

(pds/pds)