Bagi banyak konsumen Indonesia, membeli barang tanpa potongan harga seringkali terasa kurang masuk akal. Bukan karena barangnya tidak dibutuhkan, tetapi karena ada perasaan bahwa harga tersebut pasti bisa lebih murah jika menunggu sebentar lagi.
Tanggal kembar, flash sale, atau sekadar voucher dadakan sudah cukup membuat keputusan belanja ditunda. Pelan-pelan, diskon bukan lagi kejutan, melainkan menjadi sebuah ekspektasi!
Ketika diskon hadir hampir setiap hari, harga normal mulai dipertanyakan. Banyak konsumen melihatnya bukan sebagai harga sebenarnya, melainkan angka awal yang sengaja dipasang tinggi agar terlihat ada potongan. Akibatnya, membeli tanpa diskon terasa seperti keputusan yang merugikan diri sendiri.
Kebiasaan ini membentuk pola baru. Konsumen jadi terbiasa menunggu, menunda, dan membandingkan. Transaksi pun lebih sering terjadi saat potongan harga muncul, sementara di luar itu, pergerakan cenderung melambat.
Konsumen Lebih Hati-hati, Sekaligus Lebih Impulsif
Menariknya, budaya diskon melahirkan dua perilaku yang tampak bertolak belakang. Di satu sisi, konsumen semakin sensitif terhadap harga. Selisih kecil bisa menentukan pilihan, dan perbandingan dilakukan dengan cepat. Namun di sisi lain, diskon besar justru mendorong pembelian impulsif.
Barang dibeli bukan karena benar-benar dibutuhkan, tetapi karena terasa sayang jika dilewatkan. Potongan harga menciptakan rasa urgensi, dan urgensi sering kali mengalahkan pertimbangan nilai.
UMKM Paling Merasakan Dampaknya
Perubahan perilaku ini paling berat dirasakan oleh UMKM. Berbeda dengan brand besar yang punya ruang untuk bermain harga, pelaku usaha kecil sering kali berada di posisi serba terjepit. Biaya bahan baku dan operasional naik, tetapi konsumen berharap harga tetap murah atau bahkan lebih murah dari sebelumnya.
Tak sedikit UMKM akhirnya memilih ikut arus, memotong margin demi bertahan. Penjualan mungkin terlihat ramai, tetapi keuntungan yang tersisa semakin tipis. Dalam kondisi seperti ini, usaha bisa terus berjalan, namun tanpa ruang untuk tumbuh atau bahkan sekadar bernapas lega.
Cara Konsumen Menilai Nilai Ikut Berubah
Saat diskon menjadi standar, cara konsumen menilai sebuah produk ikut bergeser. Pertanyaan tentang kualitas, daya tahan, atau layanan purna jual sering kali kalah oleh satu pertimbangan utama: berapa harga setelah diskon.
Brand yang mencoba mempertahankan harga dengan menawarkan nilai lebih kerap dianggap mahal. Padahal, nilai tersebut sering kali tak langsung terlihat. Diskon yang terlalu sering akhirnya membentuk memori harga baru di benak konsumen, dan memori ini sulit diubah.
Murah Hari Ini, Mahal di Kemudian Hari
Dalam jangka pendek, harga murah jelas menguntungkan konsumen. Pilihan terasa lebih banyak, belanja terasa lebih ringan. Namun dalam jangka panjang, dampaknya tidak selalu sejalan.
Ketika UMKM satu per satu tumbang, variasi produk menyempit. Ketika kualitas ditekan demi harga, konsumen ikut menanggung risikonya. Dan ketika hanya pemain besar yang bertahan, posisi tawar konsumen justru melemah.
Harga murah hari ini bisa berarti pilihan yang lebih mahal di kemudian hari.
Perlu Menempatkan Diskon di Tempat yang Tepat
Diskon bukan musuh. Ia tetap relevan sebagai alat pemasaran. Namun ketika menjadi satu-satunya cara bertahan, itu pertanda ada yang perlu dibenahi.
Bagi pelaku usaha, membangun kepercayaan, konsistensi kualitas, dan pengalaman pelanggan mungkin terasa lebih lambat dibanding memotong harga. Tapi justru di sanalah fondasi bisnis yang lebih tahan lama. Sementara bagi konsumen, mungkin sudah waktunya melihat harga bukan hanya dari besar potongannya, tetapi juga dari nilai yang ditawarkan.
Karena ketika diskon terus dianggap sebagai standar, yang perlahan hilang bukan hanya margin bisnis, tetapi juga makna dari harga itu sendiri.
Yuk, pantau insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan ekonomi diĀ FYB detikcom!
(srn/srn)