Kuota Mandiri UM Berpotensi Bertambah, Peluang Masuk Semakin Terbuka


Story by Universitas Negeri Malang

Rabu, 03 Jun 2026 15:14 WIB
Universitas Negeri Malang (UM) memperluas kesempatan bagi calon mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan tinggi melalui Tes Masuk Berbasis Komputer (TMBK) 2026.
Dok: Universitas Negeri Malang
Jakarta -

Universitas Negeri Malang (UM) memperluas kesempatan bagi calon mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan tinggi melalui Tes Masuk Berbasis Komputer (TMBK) 2026. Seleksi yang akan dimulai pada 12-13 Juni mendatang tidak hanya menghadirkan sistem penerimaan yang lebih ketat dan berintegritas, tetapi juga membuka peluang bertambahnya kuota jalur mandiri melalui pengalihan kursi SNBT yang tidak terisi. Langkah ini memperbesar kesempatan peserta untuk meraih kursi di UM pada tahun akademik 2026.

Pada pelaksanaan TMBK 2026, UM memiliki enam titik lokasi yang tersebar di Indonesia dengan waktu pelaksanaan tes yang berbeda-beda. Titik lokasi TMBK di Kota Jakarta, Balikpapan, Bandung akan dilaksanakan tanggal 6-7 Juni 2026, kemudian titik lokasi TMBK di Kota Medan, Yogyakarta, Lombok akan dilaksanakan tanggal 8-9 Juni 2026, sementara TMBK di UM akan dilaksanakan pada 12-13 Juni 2026.

Penyebaran titik lokasi di enam kota itu adalah sebagai upaya UM untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan akses bagi calon mahasiswa dari berbagai daerah dalam mengerjakan TMBK 2026. Di tengah meningkatnya minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan tinggi, UM tidak hanya memperkuat sistem seleksi yang berintegritas, tetapi juga mengoptimalkan daya tampung agar kesempatan masuk perguruan tinggi semakin terbuka bagi calon mahasiswa.

Kepala Subdirektorat Seleksi (Kasubdit) UM, Dr. Rizky Firmansyah, S.E., M.S.A., CFP, CSRS, CAP, CRA., menjelaskan bahwa daya tampung UM tahun ini meningkat menjadi 13.101 mahasiswa. Sejalan dengan peningkatan tersebut, kuota jalur mandiri yang saat ini mencapai 4.545 kursi berpotensi bertambah apabila terdapat kursi SNBT yang tidak terisi.

“Kalau ada peserta yang tidak registrasi ulang di SNBT, maka akan dialihkan kuotanya. Jadi kuota jalur mandiri masih bisa bertambah sesuai jumlah kursi yang tidak terisi,” jelas Dr. Rizky.

Menurutnya, mekanisme pengalihan kuota tersebut merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan daya tampung universitas. Dengan cara ini, kursi yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal sehingga lebih banyak calon mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menempuh pendidikan di UM.

Selain memperluas peluang penerimaan mahasiswa baru, UM juga melakukan berbagai penguatan pada aspek pelaksanaan seleksi. Evaluasi dari pelaksanaan TMBK dan SNBT pada tahun-tahun sebelumnya menjadi landasan untuk meningkatkan kualitas pengawasan selama ujian berlangsung.

“Belajar dari TMBK tahun lalu dan pelaksanaan SNBT tahun ini, kami semakin memperketat pelaksanaan ujian,” ujar Dr. Rizky.

Ia menegaskan bahwa seluruh proses seleksi akan diawasi secara ketat guna menjamin kejujuran dan transparansi pelaksanaan ujian.

“Yang jelas, pelaksanaannya akan dijaga dengan optimal supaya proses ujian lancar. Tidak ada praktik-praktik yang menguntungkan pihak tertentu,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Pendidikan UM, Prof. Evi Eliyanah, S.S., M.A., Ph.D., mengungkapkan bahwa berbagai persiapan TMBK telah dilakukan secara simultan sejak pelaksanaan SNBT berlangsung. Kesiapan sistem, laboratorium komputer, teknisi, hingga pengawas telah dipersiapkan secara menyeluruh untuk memastikan pelaksanaan ujian berjalan lancar.

“Koordinasi dengan mitra luar kota sudah kami lakukan sejak dua bulan yang lalu, termasuk pembagian pengawas, teknisi, penyiapan sarana dan prasarana, hingga uji coba sistem,” ungkap Prof. Evi.

Sebagai bentuk komitmen dalam memberikan layanan yang optimal, TMBK UM 2026 akan dilaksanakan di 67 ruang laboratorium komputer yang tersebar di berbagai fakultas dan unit kerja di lingkungan UM. Kemudian, seluruh lokasi ujian, baik di UM maupun di luar kota, telah dibekali standar operasional yang sama, mulai dari aspek administrasi, teknis, hingga penanganan apabila ditemukan indikasi pelanggaran selama pelaksanaan ujian.

Pada aspek teknologi, UM turut memperkuat sistem keamanan ujian guna meminimalkan potensi kecurangan. Sejumlah pembaruan diterapkan, mulai dari penguatan browser ujian hingga sistem pengacakan soal yang lebih variatif.

“Kami memperkuat browser yang digunakan sehingga peserta tidak dapat membuka aplikasi lain selama ujian. Selain itu, sistem pengacakan soal dibuat lebih bervariasi sehingga peserta yang berdampingan tidak memperoleh soal maupun urutan soal yang sama,” jelas Prof. Evi.

Disamping itu Prof. Evi juga berpesan kepada calon mahasiswa untuk memanfaatkan kesempatan dengan cara segera melakukan registrasi apabila telah dinyatakan lolos seleksi.

“Pesan saya jangan lupa untuk melakukan registrasi ulang apabila telah dinyatakan lolos pada seleksi mandiri nanti, dengan demikian calon mahasiswa bisa bertanggung jawab atas pilihannya sendiri,” ujarnya.

Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen UM dalam menjaga kredibilitas proses seleksi sekaligus memastikan seluruh peserta memperoleh kesempatan yang adil untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.

TMBK UM juga akan menerapkan standar keamanan yang mengacu pada UTBK, termasuk pemeriksaan identitas peserta dan security check sebelum ujian dimulai. Selain itu, UM menegaskan tidak akan memberikan toleransi terhadap segala bentuk kecurangan.

Tidak hanya berfokus pada keamanan dan kualitas seleksi, UM juga memastikan layanan yang inklusif bagi seluruh peserta. Seperti pada pelaksanaan SNBT, peserta penyandang disabilitas di masing-masing titik lokasi akan memperoleh pendampingan sesuai kebutuhan agar dapat mengikuti ujian secara nyaman dan optimal.

Melalui TMBK 2026, UM berupaya menghadirkan sistem penerimaan mahasiswa baru yang lebih luas, transparan, dan berkeadilan. Kebijakan penambahan kuota jalur mandiri, penguatan sistem keamanan, serta penyediaan layanan inklusif menjadi bukti komitmen UM dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang berkualitas dan dapat diakses oleh lebih banyak masyarakat.