Kualitas Tidur Jadi Investasi, Tren Sleep Wellness Meningkat


Rabu, 30 Sep 2026 19:41 WIB
Kualitas tidur kini jadi investasi kesehatan jangka panjang, membuka peluang bisnis sleep wellness di Indonesia.
Foto: Getty Images/Casanowe
Jakarta -

Kualitas tidur mulai dilihat sebagai bagian dari investasi kesehatan jangka panjang, bukan sekadar kebutuhan dasar yang bisa diabaikan. Tren ini membuka ruang bagi produk dan layanan berbasis sleep wellness untuk berkembang di pasar Indonesia, salah satunya ditandai dengan ekspansi merek kasur asal Australia, DrRest, yang memilih Indonesia sebagai pasar internasional pertamanya di luar negara asal.

Ekspansi tersebut dilakukan melalui pembukaan showroom di Indonesia Design District, PIK 2, Jakarta, pada 24 September 2026. Produk ini dikembangkan dengan pendekatan berbasis kesehatan dan melibatkan empat dokter spesialis dari Australia, sebelum akhirnya diperkenalkan ke pasar Indonesia.

Kenapa Sektor Kesehatan Tidur Menjadi Peluang Bisnis Baru?

Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kualitas tidur masih tergolong rendah, meski dampaknya terhadap produktivitas dan kesehatan jangka panjang cukup signifikan. Kondisi ini membuka celah pasar bagi pelaku usaha yang ingin masuk ke segmen produk kesehatan tidur, mulai dari kasur, bantal, hingga layanan konsultasi tidur yang selama ini belum banyak digarap secara serius di pasar lokal.

Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, praktisi kedokteran tidur Indonesia yang telah mendalami bidang ini sejak 2003, menyampaikan bahwa banyak pasien datang dengan gejala yang sudah berlangsung bertahun-tahun sebelum akhirnya memeriksakan diri ke dokter. Fenomena ini menunjukkan ada jarak antara kesadaran dan tindakan yang bisa diisi oleh edukasi pasar dan produk yang tepat sasaran.

Bagaimana Riset dan Kolaborasi Lintas Disiplin Membentuk Produk Berkualitas?

Pengembangan produk berbasis riset medis, seperti yang dilakukan pada DrRest dengan melibatkan empat dokter spesialis dari disiplin ilmu berbeda, menunjukkan kolaborasi lintas keahlian bisa menghasilkan inovasi yang lebih terukur. Produk ini menggunakan Technogel, material berbasis gel asal Italia yang sebelumnya sudah dipakai dalam aplikasi medis, untuk membantu distribusi tekanan pada tubuh saat tidur.

Pendekatan berbasis riset semacam ini bisa menjadi contoh bagi pelaku UMKM di sektor kesehatan dan gaya hidup untuk membangun kepercayaan konsumen melalui data dan pengujian, bukan hanya klaim pemasaran. Konsumen yang semakin kritis terhadap produk kesehatan cenderung mencari bukti riset sebelum memutuskan pembelian.

Apa Dampaknya bagi Ekosistem Bisnis Ritel dan Properti Gaya Hidup?

Kehadiran merek kesehatan tidur internasional di kawasan seperti PIK 2 turut memperkuat posisi kawasan tersebut sebagai destinasi ritel gaya hidup premium. Presiden Direktur Massindo Group Jeffri Massie menyampaikan rencana membuka gerai lanjutan di Jabodetabek dan kota besar lain, langkah yang berpotensi menciptakan lapangan kerja baru serta mendorong pertumbuhan sektor ritel kesehatan di berbagai daerah.

Peluang ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia yang menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja pada 2025, dengan mayoritas dari generasi muda yang semakin peduli terhadap kualitas hidup. dr Nick Antoniades, spesialis pernapasan dan tidur asal Australia, turut menjadi bagian tim pengembang produk ini, menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas negara di bidang riset kesehatan bisa diterjemahkan menjadi produk yang siap bersaing di pasar konsumen.

Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.

(srz/srz)