Pasar Halal Tembus Rp20.000 Triliun, Ini Peluang UMKM Kuliner RI Go Global


Minggu, 05 Jul 2026 20:00 WIB
Pasar produk halal global diperkirakan mencapai Rp20.000 triliun. UMKM kuliner Indonesia dapat memanfaatkan peluang ini dengan sertifikasi halal dan ekspor.
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Pasar produk halal dunia kini bernilai lebih dari Rp20.000 triliun, dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) memproyeksikan angka ini terus membesar seiring populasi Muslim global yang menurut Pew Research Center diperkirakan mencapai 2,2 miliar jiwa pada 2030. Bagi pelaku UMKM kuliner Indonesia, tren ini bukan sekadar angka di negeri orang. Ini adalah pintu pasar yang selama ini belum digarap secara maksimal.

Salah satu contoh nyata datang dari Pandawa, pelaku usaha kuliner asal Indonesia yang mulanya dikenal lewat nasi bungkus halal di Sydney dengan rating Google 4,9 dari lebih 10.000 ulasan. Awal Juli 2026, mereka memperluas lini bisnis dengan membuka warung kopi di kawasan CBD Sydney, menyajikan kopi Arabika asal Indonesia berdampingan dengan camilan tradisional seperti pie rendang dan lemper. Langkah ini menunjukkan bahwa produk kuliner rumahan bisa naik kelas menjadi bisnis lintas negara, asal dikemas dengan standar dan sertifikasi yang tepat.


Kenapa Sertifikasi Halal Jadi Kunci Menembus Pasar Global?


Sertifikasi halal berfungsi seperti paspor dagang. Negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam tercatat mengimpor produk halal senilai sekitar US$421,5 miliar per tahun menurut laporan State of the Global Islamic Economy yang dikutip sejumlah media ekonomi (data ini masih memerlukan verifikasi lebih lanjut). Bagi UMKM kuliner, sertifikasi halal resmi bukan hanya soal kepatuhan syariat. Sertifikasi ini juga membangun kepercayaan konsumen di pasar baru, termasuk konsumen non-Muslim yang kini banyak memilih produk halal karena dianggap lebih higienis dan terjamin mutunya.


Bagaimana UMKM Bisa Memanfaatkan Momentum Ekspor Kuliner?


Kementerian Perdagangan mencatat Trade Expo Indonesia ke-40 pada Oktober 2025 membukukan transaksi hingga US$22,8 miliar, diikuti 8.000 buyer dari 130 negara, dengan kontribusi UMKM mencapai US$474,7 juta. Angka ini memperlihatkan bahwa buyer internasional sudah aktif mencari produk skala kecil dan menengah asal Indonesia, termasuk dari sektor makanan dan minuman. Program pendampingan seperti UMKM BISA Ekspor turut membuka jalur business matching yang selama ini sulit diakses pelaku usaha rumahan.


Sepanjang 2025, program UMKM BISA Ekspor tercatat menghasilkan 662 kegiatan business matching yang melibatkan 1.217 pelaku usaha berbeda, dengan total nilai transaksi mencapai US$134,87 juta. Fasilitas semacam ini membuka jalur bagi UMKM kuliner untuk terhubung langsung dengan buyer di luar negeri tanpa harus membangun jaringan distribusi dari nol.


Apa Implikasi Jangka Panjang bagi Ekonomi Nasional?


Ketika UMKM kuliner membuka gerai di luar negeri, dampaknya tidak berhenti pada satu bisnis. Setiap gerai yang berdiri di kota seperti Sydney membawa rantai pasok baru, mulai dari kopi, rempah, hingga kemasan yang tetap bersumber dari Indonesia. Permintaan terhadap produk domestik pun ikut terdorong meski penjualannya terjadi di luar negeri. Pola ini bisa menjadi model yang direplikasi UMKM kuliner lain yang selama ini hanya berorientasi pasar lokal.


Peluang di pasar halal global terus terbuka, tetapi jendelanya tidak akan selamanya lebar. UMKM kuliner yang bergerak lebih awal untuk mengurus sertifikasi, membangun standar produksi, dan menjajaki kemitraan ekspor akan lebih siap mengambil porsi dari pasar yang terus tumbuh ini.


Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.

(kep/kep)