Daftar Deals
Indonesia punya aset riset yang belum banyak dimanfaatkan dunia usaha: perguruan tinggi dengan peneliti bertaraf global. Pelaku bisnis dan UMKM yang masuk ke ekosistem ini punya keunggulan kompetitif yang nyata.
Universitas Negeri Malang (UM) menjadi salah satu contoh konkret tren ini. Tiga belas dosen penelitinya berhasil masuk jajaran World's Top 5% Scientists 2026 versi SciRank Global, badan sertifikasi independen berbasis data yang mengukur dampak riset peneliti di seluruh dunia. Pencapaian ini menempatkan UM di antara institusi pendidikan Indonesia yang produk risetnya diakui dan berpengaruh di level internasional.
Mengapa Riset Perguruan Tinggi Penting bagi Pertumbuhan Bisnis?
Pemerintah Indonesia sudah melihat potensi ini lebih dahulu. Dalam RAPBN 2026, pemerintah mengalokasikan Rp757,8 triliun untuk sektor pendidikan, dengan porsi signifikan untuk penguatan riset dan pengembangan SDM unggul. Wamendiktisaintek Stella Christie menyatakan bahwa setiap rupiah investasi dalam penelitian membawa dampak nyata pada pertumbuhan ekonomi.
Pelaku usaha bisa membaca implikasi ini. Pelaku bisnis menggunakan hasil riset perguruan tinggi sebagai fondasi inovasi produk dan efisiensi produksi. Di negara-negara maju, pelaku bisnis dan akademisi membangun ekosistem kolaborasi yang mapan dan terus mendorong daya saing industri. Indonesia sedang bergerak ke arah yang sama, dan pelaku usaha yang bergerak lebih cepat akan mendapat posisi terbaik di ekosistem itu.
Bagaimana UMKM Bisa Masuk ke Ekosistem Riset Kampus?
Pada 25 Juni 2026, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan perguruan tinggi mencetak SDM unggul guna mempercepat industrialisasi nasional. Dengan arahan itu, pelaku usaha punya jalur masuk ke ekosistem riset yang lebih terstruktur, dari program inkubasi hingga business matching antara kampus dan industri.
Kemdiktisaintek (2025) mencatat APK Perguruan Tinggi Indonesia baru mencapai 31,45 persen. Di sisi lain, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja nasional tercatat 69,58 persen, namun Tingkat Pengangguran Terbuka masih di 5,3 persen (BPS 2024). Angka ini mencerminkan kesenjangan kompetensi yang lebar antara tenaga kerja dan kebutuhan industri. Kolaborasi bisnis dengan ekosistem riset kampus adalah salah satu jalur paling langsung untuk mempersempit gap itu.
UMKM yang tumbuh tanpa fondasi riset punya peluang besar untuk naik kelas di sini. Program inkubasi kampus, akses ke hasil riset terapan, dan perekrutan talenta peneliti muda tersedia bagi pelaku usaha yang mau memanfaatkannya. Bagi bisnis di sektor manufaktur, agritech, atau teknologi, kolaborasi ini bisa memangkas biaya riset dan mempercepat pengembangan produk dibanding memulai dari nol sendiri.
Daya Saing Bisnis Indonesia di Pasar Global Dimulai dari Sini
Peneliti-peneliti Indonesia yang masuk kategori lima persen terbaik dunia menghasilkan pengetahuan dan inovasi setara standar global. Bisnis yang memanfaatkan ekosistem ini, lewat kolaborasi riset maupun perekrutan talenta kampus, membangun keunggulan kompetitif yang tidak mudah direplikasi pesaing.
Indonesia berupaya memperbaiki peringkat daya saing nasional yang sempat merosot pada 2025. Inovasi berbasis riset termasuk pendorong pertumbuhan paling berkelanjutan. Akses ke ekosistem kampus kini lebih terbuka dari sebelumnya, dan bisnis yang sudah membangun koneksi itu lebih awal punya posisi yang jauh lebih kuat saat kompetisi menguat. Bisnis Anda sudah siap masuk?
Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.