Daftar Deals
Badan Pusat Statistik mencatat jumlah kelas menengah Indonesia turun dari 57,33 juta jiwa atau 21,45 persen populasi pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa atau 17,13 persen pada 2024. Pelemahan daya beli ini menggeser ke mana konsumen membelanjakan uangnya, dan pergeseran itu membuka peluang bisnis baru bagi pelaku usaha dan UMKM. Konsumen tetap berbelanja, hanya memilih jauh lebih ketat.
Kelas menengah dan calon kelas menengah masih menyumbang 81,49 persen dari total konsumsi rumah tangga nasional. Pasar tetap besar. Konsumen kini menimbang setiap rupiah, menahan pengeluaran besar, dan tetap membayar untuk produk harian yang manfaatnya terasa langsung. Ekonom menyebut pola ini efek lipstik: belanja kecil yang memberi kepuasan bertahan saat anggaran menyusut. Beberapa merek perawatan harian seperti Usmile mencatat penjualan naik ketika daya beli umum tertekan.
Mengapa Produk Bernilai Harian Tetap Laku Saat Daya Beli Tertekan?
Konsumen menyusun ulang prioritas. Bank Indonesia mencatat 75,1 persen pendapatan masyarakat habis untuk konsumsi pada September 2025, naik dari bulan sebelumnya, sehingga ruang menabung menyempit. Anda akan memangkas barang sekali pakai atau yang bisa ditunda lebih dulu, lalu mempertahankan kebutuhan rutin yang menjaga kualitas hidup. Produk dengan nilai guna harian dan harga masuk akal karena itu memegang posisi tawar lebih kuat dibanding barang mewah yang dibeli impulsif.
Bagaimana UMKM Bisa Memanfaatkan Pergeseran Perilaku Konsumen Ini?
UMKM yang memosisikan produknya sebagai kebutuhan harian menang di pasar ini. Hindari adu harga termurah. Tonjolkan manfaat yang konkret dan berulang: produk perawatan yang habis dipakai lalu dibeli lagi memberi arus pendapatan yang lebih bisa Anda prediksi. Tawarkan kemasan isi ulang atau paket langganan agar satu pelanggan membeli berkali-kali. Konsumen ingin tetap merawat diri tanpa merasa boros, dan posisi hemat untuk jangka panjang menjawab kekhawatiran itu. Mutu yang konsisten dan komunikasi yang jujur mendorong pembelian ulang, sumber pendapatan yang lebih stabil daripada transaksi sesaat.
Nilai Bersama Menentukan Daya Tahan Bisnis ke Depan
Volume penjualan tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Bisnis yang bertahan menciptakan nilai bersama bagi konsumen dan ekosistem sekitarnya, misalnya dengan melibatkan komunitas pelanggan atau pemasok lokal. Konsumen sekarang membeli sebuah produk sambil menilai apakah uangnya menambah kualitas hidup. Pelaku usaha dan UMKM yang membaca pergeseran ini lebih awal akan merebut peluang bisnis dari pasar yang berhati-hati tetapi tetap aktif berbelanja.
Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.
(kep/kep)