Sebanyak 971 siswa kelas 5 dari 21 SDK PENABUR Jakarta dengan didampingi oleh 97 guru, melaksanakan Spirit of Braveness, kegiatan pembelajaran luar sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 7-15 Juni 2026 dalam lima gelombang keberangkatan menggunakan moda kereta api.
Kepala Jenjang SD BPK PENABUR Jakarta, Wahyu Kristiani, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengasah kemandirian, keberanian serta kepedulian siswa. "Dalam tiga hari ini, para peserta berkesempatan untuk mengenal secara langsung kebudayaan Yogyakarta yang luhur dan indah, seperti melalui alat musik, tarian, permainan bahkan makanan tradisionalnya. Mereka diajak untuk mengenal kebudayaan yang berbeda dari keseharian mereka." ujar Wahyu.
Foto Dok: SDK PENABUR Jakarta |
Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan profil BEST, yakni Be tough, Excel worldwide, Share with society, serta Trust in God, melalui serangkaian acara edukatif selama tiga hari. Pada hari pertama, para peserta diajak merasakan hidup di Desa Santa, Kabupaten Bantul. Mereka berkeliling desa menggunakan sepeda dan mobil "odong-odong", belajar alat musik tradisional -gamelan, juga bermain dengan permainan lokal, seperti gangsing dan dakon.
Tak hanya itu, para peserta membuat batik tulis, membuat kerajinan tangan berbahan dasar batok kelapa, berfoto dengan pakaian tradisional hingga menikmati pertunjukan wayang secara live. Kegiatan lain di Desa Santan adalah mengunjungi para lansia sekaligus memberikan bingkisan kasih untuk mereka, dan di malam harinya para peserta menginap di rumah warga.
Hari kedua dihiasi dengan kunjungan wisata ke Gunung Merapi, Candi Prambanan serta Alun-alun Utara, dimana peserta menikmati sajian tradisional seperti wedang ronde dan sego kucing. Sedangkan di hari ketiga, peserta diajak ke Pabrik Cokelat "Monggo" serta belajar jemparingan serta tarian anak-anak tradisional.
Jevan Raphael Lefrand, siswa SDK 11 PENABUR, mengungkapkan bahwa naik sepeda keliling desa adalah bagian yang paling seru, karena belum lancar bersepeda, Ia memilih untuk berlari bersama teman-temannya yang naik sepeda. Ia pun terlihat asyik bermain dengan anak-anak setempat, "Anak-anaknya asyik diajak main, terus aku juga ajak teman-temanku untuk main bareng mereka." cerita Jevan antusias.
Siswa SDK 11 PENABUR lainnya, Kayla, menceritakan serunya mengunjungi Candi Prambanan. Baginya, dengan kunjungan itu dia bisa belajar lebih mendalam tentang sejarah dan budaya Yogyakarta. "Saya melihat banyak relief dan dijelaskan oleh pemandu bagaimana cerita dari relief itu." tambahnya.
Apresiasi dari Pemerintah Daerah
Kegiatan yang telah berlangsung dari tahun 2016 ini, mendapatkan apresiasi dari pemerintah daerah setempat. Dalam kunjungannya ke Desa Wisata Santan, Bantul, perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Karman, menyambut baik kegiatan ini. "Kegiatan Spirit of Braveness ini menjadi kesempatan yang baik sekali untuk memperkenalkan budaya tradisional Yogyakarta, khususnya Kabupaten Bantul, kepada siswa-siswi SDK PENABUR Jakarta. Kami berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan, karena selain bisa menambah wawasan, bisa juga untuk mendorong pelestarian budaya tradisional.", ujarnya.
Sementara itu, Pelaksana tugas Kepala Disdikpora DIY Muhammad Setiadi, disela-sela kegiatan jemparingan di kampung Mataraman, Bantul, membacakan sambutan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono XI yang memberikan apresiasi terhadap kegiatan ini. "Kami merasa terhormat dan berterima kasih karena BPK PENABUR Jakarta memilih DIY sebagai tujuan wisata edukasi. Kami meyakini bahwa pembelajaran tidak terbatas hanya di ruang kelas saja, namun perlu dilengkapi dengan pengalaman yang didapat diluar kelas." ucapnya.
Kegiatan Bebas Gawai
Dalam waktu total lima hari, termasuk dua hari perjalanan menggunakan kereta api, para peserta tidak diperkenankan membawa dan menggunakan gawai. "Tantangannya justru dari orang tua, yang belum terbiasa tidak dapat secara leluasa menghubungi putra-putrinya. Namun, kami meyakinkan bahwa dibawah pendampingan guru, anak-anak tetap aman. Kami berharap kegiatan tanpa gawai ini menjadi kesempatan untuk anak-anak bebas bermain selayaknya anak-anak dan berinteraksi dengan teman-teman mereka.", jelas Wahyu.
Johannes Ravial Santos, siswa SDK PENABUR Gading Serpong, menyambut baik kebijakan itu. "Saya senang karena tidak membawa handphone, saya jadi lebih banyak ngobrol dan bermain dengan teman-teman. Kaya tadi di bus, kita jadi bercanda-canda, seru-seruan, kalau bawa HP, kita malah main sendiri-sendiri." tambahnya.
Wahyu berharap melalui kegiatan ini, para peserta bisa mendapatkan wawasan dan pengalaman baru yang akan berguna bagi kehidupan mereka selanjutnya. "Semoga anak-anak makin terlatih kemandiriannya ketika terpisah dari orang tuanya, mereka juga semakin berani mencoba hal-hal baru dan semakin peduli dengan kondisi lingkungan sekitar, serta mau membantu sesama yang membutuhkan.", tutupnya.
