Satu Server Rusak, Bisnis Bisa Lumpuh! Ini Risiko Abai Backup Data


Selasa, 25 Aug 2026 16:10 WIB
Kehilangan data dapat mengganggu operasional UMKM, sehingga backup dan digitalisasi penting untuk keberlangsungan usaha.
Foto: Dok. Princeton Digital Group
Jakarta -

Setiap tahun, gangguan operasional akibat sistem yang tidak siap menghadapi kegagalan menjadi salah satu sumber kerugian yang kerap luput diperhitungkan pelaku usaha. Laporan The True Cost of Downtime 2024 mencatat perusahaan besar dapat mengalami kerugian rata-rata hingga US$253 juta per tahun akibat unplanned downtime. Meski angka tersebut berasal dari skala industri besar, risikonya menunjukkan pentingnya kesiapan sistem dan pencadangan data bagi bisnis dengan skala apa pun.

Menurut riset dari beberapa Consulting Group seperti Boston Consulting Group menunjukkan hanya 20 persen UMKM yang disurvei memiliki literasi digital yang matang. Kondisi ini menunjukkan masih adanya ruang besar bagi pelaku usaha untuk memperkuat pemanfaatan teknologi dalam operasional bisnis, termasuk dalam pengelolaan dan perlindungan data.

Penerapan Seagate Exos di SKK Migas, yang menangani data operasional 149 kontraktor migas dengan teknologi ADAPT yang membantu mempercepat proses rebuild data menggambarkan bagaimana organisasi besar menempatkan ketahanan sistem sebagai prioritas utama, bukan sekadar tambahan kapasitas. Prinsip yang sama relevan bagi UMKM, meski skala investasinya jauh lebih kecil.

Apa yang Terjadi Kalau UMKM Kehilangan Data Bisnis Tanpa Cadangan?

Data pelanggan, riwayat pesanan, dan catatan keuangan adalah aset yang menopang keputusan bisnis sehari hari. Ketika data itu hilang tanpa cadangan, usaha kehilangan lebih dari sekadar file, tetapi juga waktu untuk membangun ulang kepercayaan pelanggan dan menyusun kembali laporan yang dibutuhkan untuk pengajuan modal atau kerja sama dengan mitra baru.

Kenapa Risiko Ini Sering Diabaikan Pelaku Usaha Kecil?

Banyak pelaku usaha dapat menunda investasi pada sistem backup karena kebutuhan tersebut kerap dianggap belum mendesak dibanding kebutuhan operasional lain seperti stok barang atau biaya pemasaran. Pemerintah juga mendorong pendampingan dan digitalisasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM. Dalam proses pengajuan pembiayaan, data usaha yang tersimpan rapi juga penting karena bank atau lembaga pembiayaan dapat meminta dokumen dan informasi keuangan sebagai bagian dari proses penilaian. Data yang hilang atau tidak lengkap berpotensi menyulitkan pelaku usaha saat menyiapkan dokumen yang dibutuhkan.

Bagaimana UMKM Bisa Mulai Mengurangi Risiko Ini Tanpa Biaya Besar?

Langkah awal yang bisa dilakukan adalah menyimpan salinan data penting di dua lokasi berbeda, memanfaatkan layanan cloud dengan skema berbayar sesuai kebutuhan, dan menjadwalkan pencadangan rutin setiap minggu. Usaha yang volumenya mulai bertambah bisa mempertimbangkan penyedia solusi storage yang menawarkan skema skalabel, sehingga biaya berkembang mengikuti pertumbuhan bisnis, bukan menjadi beban di awal.

Risiko kehilangan data mungkin tidak terlihat sampai benar benar terjadi, dan saat itu terjadi, dampaknya bisa menghambat operasional dalam waktu yang lama. Selisih biayanya pun jauh berbeda, mencadangkan data secara rutin umumnya hanya membutuhkan biaya layanan cloud bulanan yang kecil, sementara pemulihan data yang sudah hilang bisa memakan waktu berminggu-minggu dan melibatkan biaya jasa pemulihan yang jauh lebih besar. UMKM yang mulai menyiapkan sistem cadangan data sejak dini akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk tumbuh tanpa harus menanggung risiko yang bisa dicegah lebih awal.

Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.

(srz/srz)