Daftar Deals
Ekonomi yang bergerak di balik ibadah haji dan umrah Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari Rp110 triliun setiap tahun, jauh melampaui sekadar ritual keagamaan tahunan. Dengan kuota haji 2026 mencapai sekitar 221 ribu jemaah dan jumlah jemaah umrah lebih dari 2,5 juta orang per tahun, aliran dana ini menciptakan ekosistem bisnis yang melibatkan perbankan syariah, jasa perjalanan, hingga UMKM penyedia perlengkapan ibadah. Besarnya potensi ekonomi ini masih berbanding terbalik dengan literasi masyarakat yang terbatas soal cara mempersiapkan haji secara finansial dan syar'i.
Kondisi ini mendasari sejumlah penyelenggara perjalanan ibadah untuk mendorong program edukasi sebelum keberangkatan. Wafdullah Group misalnya, melalui program Arafah Calling, menghadirkan forum edukasi haji yang mengundang narasumber ahli syariah, praktisi keuangan haji, hingga perwakilan Kementerian Haji dan Umrah untuk membekali calon jemaah dengan pemahaman yang lebih utuh sebelum berangkat.
Pendekatan semacam ini mencerminkan pergeseran cara pelaku industri melihat persiapan haji, bukan sekadar transaksi jasa perjalanan, tetapi bagian dari edukasi finansial jangka panjang yang berdampak pada keputusan ekonomi jemaah selama belasan tahun masa tunggu.
Kenapa Literasi Keuangan Syariah Penting bagi Calon Jemaah Haji?
Sebagian besar calon jemaah haji reguler di Indonesia harus menunggu antara 15 hingga 26 tahun sebelum bisa berangkat, tergantung provinsi domisili. Selama masa tunggu itu, setoran awal sebesar Rp25 juta yang mereka simpan di rekening Badan Pengelola Keuangan Haji dikelola dan menghasilkan nilai manfaat yang ikut menutup selisih Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji yang terus naik setiap tahun.
Tanpa pemahaman yang memadai soal skema ini, banyak calon jemaah kesulitan merencanakan keuangan keluarga secara realistis, mulai dari kapan harus menambah tabungan hingga bagaimana menyikapi kenaikan biaya haji dari tahun ke tahun. Edukasi finansial berperan sebagai penerjemah antara kebijakan pengelolaan dana haji dan keputusan ekonomi rumah tangga sehari-hari.
Bagaimana UMKM Bisa Ambil Bagian dari Ekosistem Ekonomi Haji?
Rantai ekonomi haji tidak berhenti di agen perjalanan dan maskapai. Setiap tahun, ratusan ribu jemaah membutuhkan perlengkapan ihram, oleh-oleh khas Tanah Suci, jasa katering selama masa karantina, hingga produk kesehatan untuk perjalanan jauh, kebutuhan yang sebagian besar dipasok oleh UMKM lokal di berbagai daerah.
Ekosistem keuangan syariah turut memperkuat posisi UMKM dalam rantai ini. Otoritas Jasa Keuangan mencatat total aset perbankan syariah nasional mencapai Rp1.067,73 triliun dengan penyaluran pembiayaan tumbuh 9,58 persen secara tahunan, salah satu sumber pembiayaan yang bisa diakses UMKM penyedia produk dan jasa terkait haji untuk memperbesar kapasitas usaha menjelang musim keberangkatan.
Permintaan musiman ini sifatnya berulang dan cukup terukur setiap tahun, mengingat jadwal keberangkatan haji dan umrah sudah ditentukan jauh hari oleh pemerintah. Karakter permintaan yang terjadwal ini membuat UMKM di sektor pendukung haji punya peluang merancang perencanaan produksi dan stok yang lebih matang dibanding sektor musiman lain yang polanya sulit diprediksi.
Bagaimana Arah Ekonomi Haji Indonesia ke Depan?
Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi syariah nasional tumbuh 4,9 hingga 5,7 persen pada 2026, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,61 persen secara tahunan pada kuartal pertama tahun ini. Momentum ini membuka ruang bagi ekosistem haji untuk berkembang lebih terintegrasi, dari sisi keuangan, edukasi, maupun rantai pasok UMKM pendukungnya, sekaligus menjadikan literasi finansial sebagai fondasi yang setara pentingnya dengan kesiapan spiritual calon jemaah.
Semakin banyak calon jemaah yang memahami skema keuangan haji sejak dini, semakin sehat pula ekosistem ekonomi yang menopangnya, mulai dari lembaga pengelola dana hingga UMKM yang menggantungkan sebagian bisnisnya pada musim haji dan umrah.
Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.
(kep/kep)