Ekonomi Personalisasi Melonjak, Ini Peluang UMKM di Tren Bisnis Pet Lifestyle


Senin, 03 Aug 2026 19:06 WIB
Ekonomi personalisasi tumbuh pesat, terutama di sektor pet lifestyle. UMKM dapat manfaatkan tren melalui kolaborasi dan produk berbasis pengalaman emosional.
Foto: Getty Images/Johnce
Jakarta -

Ekonomi personalisasi tumbuh seiring pergeseran perilaku konsumen muda yang kini mencari produk dengan ikatan emosi dan cerita pribadi, jauh melampaui fungsi barang generik semata. Survei Rakuten terhadap 7.015 pemilik hewan peliharaan di Indonesia mencatat 38 persen responden rutin mengeluarkan Rp100.000 hingga Rp300.000 per bulan untuk kebutuhan hewan kesayangan mereka, angka yang menunjukkan betapa besar ruang gerak ekonomi di sektor pet lifestyle bagi pelaku usaha kecil menengah.


Momentum ini ditangkap oleh Inside The Boox: The Pawciety Club 2026 lewat roadshow chapter pertamanya di K Mall Kemayoran pada 5 hingga 9 Agustus 2026, yang menghadirkan kolaborasi pertama bersama Project Playground untuk mengubah momen kebersamaan pemilik dan hewan peliharaan menjadi figur art toy koleksi. Puluhan tenant pet premium lintas kategori turut hadir, mulai dari nutrisi hewan, grooming, fesyen, hingga kuliner ramah hewan peliharaan.


Ketika UMKM Bisa Ambil Bagian dari Ekonomi Personalisasi?

Bagi pelaku UMKM, tren menggabungkan produk fisik dengan pengalaman personal membuka ceruk baru yang belum banyak digarap. Bisnis pet sitting misalnya, sudah terbukti mampu menghasilkan omzet Rp1 juta hingga Rp5 juta per bulan bagi pelaku usaha rumahan, sekadar bermodal kedekatan dengan hewan peliharaan dan jaringan pelanggan lokal. Pola yang sama bisa diterapkan pada jasa dokumentasi momen hewan peliharaan, produksi merchandise custom, atau kolaborasi dengan komunitas pecinta hewan di kota masing-masing.


Kenapa Kolaborasi Lintas Industri Jadi Kunci Pertumbuhan?

Kolaborasi seperti yang terjadi antara pet lifestyle dan Art Toy menunjukkan bahwa pertumbuhan usaha kecil tidak selalu datang dari sektor yang sama. Pelaku kreatif lokal di ranah character IP, seperti figur yang lahir dari komunitas desainer toy custom, membuktikan produk personal berbasis cerita bisa menembus pasar yang lebih luas ketika dipertemukan dengan komunitas yang tepat. UMKM yang jeli membaca peluang kolaborasi lintas kategori punya kesempatan memperluas basis pelanggan tanpa harus membangun brand dari nol.


Apa Dampaknya bagi Ekonomi Kreatif Nasional?

Sektor ekonomi kreatif tercatat berkontribusi Rp1.611,2 triliun atau 7,28 persen terhadap Produk Domestik Bruto pada 2024 menurut Badan Pusat Statistik, dengan laju pertumbuhan 6,57 persen yang melampaui rata-rata ekonomi nasional. Kategori produk berbasis personalisasi dan pengalaman emosional diproyeksikan menjadi salah satu pendorong utama capaian tersebut ke depan, membuka ruang bagi UMKM di berbagai kota untuk masuk ke rantai nilai ekonomi kreatif lewat produk yang lebih personal dan bermakna bagi konsumennya.


Tren pet lifestyle yang berpadu dengan ekonomi personalisasi memperlihatkan arah baru bagi pelaku usaha kecil menengah untuk tumbuh lewat produk yang dekat dengan keseharian konsumen. Peluang ini terbuka lebar bagi siapa saja yang mau memulai dari komunitas dan cerita personal pelanggannya sendiri.


Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

(kep/kep)