Wisata Kota Jadi Mesin Cuan Baru! Peluang Bisnis dan UMKM di Baliknya


Minggu, 21 Jun 2026 12:00 WIB
Pariwisata kota di Indonesia tumbuh pesat, menciptakan peluang bagi pelaku usaha. Momen perayaan kota jadi strategi efektif untuk bisnis menarik wisatawan.
Foto: Dok. UNIC
Jakarta -

Pariwisata kota kini menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi yang paling cepat bergerak di Indonesia. Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, Badan Pusat Statistik mencatat pergerakan wisatawan nusantara menembus 997,91 juta perjalanan atau naik 18,89 persen secara tahunan, sinyal kuat bahwa minat masyarakat menjelajahi kotanya sendiri sedang berada di titik tertinggi. Bagi pelaku usaha, angka ini bukan sekadar statistik, melainkan peta peluang.

Geliat itu semakin terasa setiap kali sebuah kota merayakan momen pentingnya. Perayaan Hari Jadi Kota Jakarta ke-499, misalnya, mendorong sejumlah pemain industri akomodasi menghadirkan kampanye khusus untuk menarik wisatawan lokal. Archipelago Hotels termasuk yang memanfaatkan momentum tersebut lewat flash sale satu hari di belasan propertinya di Jakarta. Strategi seperti ini menunjukkan bahwa perayaan kota dapat dikonversi menjadi lonjakan permintaan yang nyata.

Daya tariknya tidak berhenti di hotel. Setiap wisatawan yang bergerak di dalam kota membelanjakan uang untuk transportasi, kuliner, oleh-oleh, hingga hiburan. Itulah sebabnya sektor pariwisata disebut memiliki multiplier effect terbesar. Kementerian Pariwisata mencatat sektor ini menyumbang sekitar 3,97 persen terhadap Produk Domestik Bruto pada 2025, dengan lapangan usaha akomodasi serta makan dan minum tumbuh 7,41 persen.

Kenapa Momen Perayaan Kota Menguntungkan Pelaku Usaha?

Momen perayaan menciptakan urgensi yang sulit ditiru promosi biasa. Ketika sebuah kampanye hanya berlaku satu hari atau satu pekan, konsumen terdorong mengambil keputusan lebih cepat. Bagi bisnis, ini kesempatan menaikkan tingkat hunian, memutar persediaan, dan memperkuat arus kas dalam waktu singkat tanpa harus menggelontorkan anggaran iklan besar.

Lebih dari itu, perayaan kota membangun cerita. Wisatawan tidak hanya membeli kamar atau makanan, tetapi membeli pengalaman menjadi bagian dari momen kota. Pelaku usaha yang mampu mengemas narasi lokal ke dalam produknya akan lebih mudah menonjol di tengah persaingan.

Bagaimana UMKM Bisa Ikut Menikmati Limpahan Wisatawan?

Peluang terbesar justru terbuka bagi usaha kecil. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata yang merujuk sistem OSS, sekitar 96,3 persen dari 2,55 juta usaha pariwisata terdaftar di Indonesia adalah UMKM, mulai dari restoran, kafe, biro perjalanan, hingga jasa wisata. Artinya, setiap gelombang wisatawan yang masuk ke kota akan mengalir ke ribuan usaha kecil di sekitarnya.

Agar limpahan itu tertangkap, UMKM perlu hadir di kanal yang sama dengan wisatawan. Menautkan produk dengan lokasi populer, aktif di platform digital, serta menyiapkan paket bertema perayaan adalah langkah sederhana yang berdampak. Kolaborasi dengan pelaku hospitality yang lebih besar juga membuka akses ke pasar yang sebelumnya sulit dijangkau sendirian.

Pariwisata Urban dan Masa Depan Ekonomi Lokal

Tren ini diperkirakan terus menguat. Pemerintah menempatkan pariwisata sebagai salah satu tumpuan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen pada 2029, dan sepanjang 2025 sektor ini menyerap 25,91 juta tenaga kerja. Kota yang mampu mengubah perayaan menjadi pengalaman akan menjadi magnet ekonomi baru.

Bagi pelaku usaha, pesannya jelas. Peluang tidak menunggu, ia muncul bersama momentum. Mereka yang siap membaca kalender kota dan menyiapkan penawaran tepat waktu akan memetik manfaat paling besar. Wisata kota bukan lagi sekadar urusan liburan, melainkan ladang ekonomi nyata bagi bisnis dan UMKM yang jeli membaca peluang.

Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.

(kep/kep)