Ekonomi Peternakan Menggeliat, Peluang Cuan UMKM di Balik Ketahanan Pangan


Kamis, 18 Jun 2026 12:00 WIB
Sektor peternakan di Indonesia memiliki potensi ekonomi besar. Peluang bagi UMKM ada di rantai nilai, pengolahan produk, dan akses pasar digital.
Foto: Dok. Shutterstock
Jakarta -

Sektor peternakan menyimpan potensi ekonomi yang jauh lebih besar daripada yang umumnya disadari pelaku usaha. Secara makro, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sekitar 14,35 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional pada triwulan III 2025, dengan nilai mencapai Rp869,4 triliun menurut data BPS. Di dalamnya, subsektor peternakan menyumbang sekitar 1,56 persen terhadap PDB, sebuah angka yang menunjukkan ruang tumbuh yang masih sangat lebar bila digarap serius.


Momentum penguatan sektor ini terlihat nyata di lapangan. Ajang seperti Indo Livestock 2026 Expo & Forum mempertemukan pelaku industri, pemerintah, hingga investor dalam satu ekosistem yang sama, sekaligus menampilkan komoditas lokal bernilai tinggi seperti kontes ternak Domba Garut. Yang menarik bagi pelaku usaha bukan kontesnya, melainkan sinyal pasar yang muncul, bahwa kualitas pembibitan dan genetika unggul kini punya nilai ekonomi yang diakui dan diperdagangkan.


Di Mana Letak Peluang bagi UMKM?

Peluang terbesar justru berada di rantai nilai, bukan hanya di hulu peternakan. UMKM dapat masuk lewat pengolahan produk turunan susu, daging, dan telur, penyediaan pakan, logistik dingin, hingga pemasaran berbasis digital. Posisi ini strategis mengingat sekitar 66 juta UMKM di Indonesia menyumbang lebih dari 60 persen PDB nasional, namun baru sekitar 43 persen UMKM yang terhubung ke ekosistem digital dan platform e-commerce. Celah inilah yang bisa Anda baca sebagai ruang pertumbuhan, terutama bagi pelaku usaha yang berani menambahkan nilai dan menjangkau pasar lebih luas secara daring.


Dukungan Fiskal yang Memperkuat Ekosistem

Dari sisi kebijakan, dukungan ekonomi terhadap sektor ini cukup besar. Pemerintah mengalokasikan anggaran ketahanan pangan tahun 2026 sebesar Rp164,4 triliun, serta pemberdayaan UMKM senilai Rp181,8 triliun yang difokuskan di wilayah perdesaan termasuk penguatan logistik dan distribusi. Bagi pelaku usaha, ketersediaan dukungan logistik, pembiayaan, dan stabilitas harga ini menurunkan hambatan masuk yang selama ini membatasi UMKM agribisnis untuk naik kelas.

Dari Peternakan Rakyat ke Mata Rantai Bernilai Tambah

Masa depan ekonomi peternakan akan ditentukan oleh seberapa cepat pelaku usaha bergeser dari sekadar memproduksi menjadi menciptakan nilai tambah. Hilirisasi produk, penerapan teknologi rantai pasok, dan akses pasar digital adalah kunci agar kontribusi sektor ini terhadap ekonomi terus menebal. Bagi UMKM yang jeli, ketahanan pangan nasional bukan hanya agenda negara, melainkan peta peluang usaha jangka panjang.


Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.

(kep/kep)