Daftar Deals
Ekspansi bisnis ke kota tier 2 adalah salah satu strategi paling underrated yang justru semakin terbukti menghasilkan. Di tengah persaingan yang semakin sengit di kota-kota besar, banyak pelaku usaha mulai mengalihkan pandangan ke kota-kota berkembang yang tumbuh diam-diam namun konsisten, menawarkan pasar yang belum jenuh dan potensi jangka panjang yang lebih menjanjikan.
Kenapa Kota Berkembang Jadi Incaran Investor Sekarang?
Pergeseran ini bukan sekadar tren sesaat. Data menunjukkan bahwa perekonomian beberapa provinsi di luar Jawa justru mencatat pertumbuhan yang solid. Lampung, misalnya, berhasil membukukan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,58 persen pada Triwulan I 2026, angka tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sektor akomodasi dan makan minum di provinsi ini bahkan tumbuh paling tinggi, mencapai 12,43 persen secara tahunan, jauh melampaui rata-rata nasional.
Fenomena ini bukan kebetulan. Di balik angka tersebut ada kombinasi yang menarik: infrastruktur yang terus membaik, mobilitas masyarakat yang meningkat, dan konsumsi rumah tangga yang tetap kuat. Bagi pelaku usaha yang mampu membaca sinyal ini lebih awal, inilah momentum yang sulit diulang. Kunjungan wisatawan nusantara ke Lampung pada Triwulan I 2026, misalnya, tercatat tumbuh hingga 25,55 persen, angka yang berbicara lantang soal daya gerak ekonomi lokal.
Apa yang Harus Dicek Sebelum Masuk Pasar Baru?
Masuk ke kota yang sedang berkembang membutuhkan lebih dari sekadar keberanian. Ada beberapa indikator yang perlu dibaca sebelum memutuskan ekspansi: pertumbuhan PDRB daerah, aktivitas investasi yang masuk, dan seberapa besar permintaan korporat atau MICE di wilayah tersebut. Tiga hal ini sering jadi pembeda antara ekspansi yang menghasilkan dengan yang sekadar menghabiskan modal.
Industri perhotelan adalah salah satu sektor yang paling peka terhadap sinyal-sinyal ini. Ketika sebuah brand besar memilih untuk membuka propertinya di suatu kota, itu bukan keputusan sembarangan. Ada riset mendalam di baliknya, mulai dari peta persaingan, proyeksi occupancy, hingga profil demand pelancong bisnis di kota tersebut.
Gambaran ini juga terlihat dalam artikel Archipelago Hotels Buka fave+ Hotel Pertama Di Lampung, dengan fave+ Hotel Lampung di kanal FYB detikcom, yang mengulas bagaimana Archipelago Hotels, perusahaan manajemen hotel swasta terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, memilih Bandar Lampung sebagai lokasi pembukaan brand fave+ pertama di provinsi tersebut. Keputusan ini bukan tanpa dasar. Hotel yang berlokasi strategis di jantung kota, hanya 15 menit dari Gerbang Tol Kotabaru dan 35 menit dari bandara internasional, hadir dengan 128 smart room dan fasilitas MICE lengkap, menjawab kebutuhan perjalanan bisnis yang terus meningkat di koridor Sumatera.
Ekspansi yang Tepat Waktu Lebih Penting dari yang Sempurna
Salah satu kesalahan umum pelaku usaha dalam ekspansi adalah terlalu lama menunggu kondisi "sempurna". Padahal di kota yang sedang tumbuh, advantage terbesar justru diraih oleh yang datang lebih awal. Secara nasional, jumlah hotel dan akomodasi di Indonesia sudah mencapai 34.702 unit pada 2025, naik 11 persen dari tahun sebelumnya, dan angka ini terus bergerak.
Artinya, kompetisi di kota-kota berkembang pun akan segera meningkat. Mereka yang mampu membaca peluang dan bergerak tepat waktu akan punya posisi yang jauh lebih kuat dibanding yang menunggu kepastian.
Kota tier 2 bukan alternatif terakhir, melainkan strategi utama yang semakin banyak dibuktikan berhasil. Pertanyaannya bukan lagi "apakah layak masuk kesana", tapi "kapan waktu yang paling tepat, dan apa yang harus disiapkan?"
Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.
(jss/jss)