Ketika Festival Kuliner Jadi Strategi Bisnis! Peluang F&B yang Sering Diremehkan Pelaku Usaha


Selasa, 19 May 2026 19:06 WIB
Beberapa tahun terakhir, cara orang menikmati makanan berubah cukup mendasar. Makan bukan lagi sekadar kebutuhan yang diselesaikan.
Foto: shutterstock
Jakarta -

Dalam beberapa tahun terakhir, cara orang menikmati makanan berubah cukup mendasar. Makan bukan lagi sekadar kebutuhan yang diselesaikan, melainkan sebuah pengalaman yang dicari, dirasakan, dan dibagikan. Pergeseran ini bukan hanya terjadi di kota besar, tetapi merata di berbagai wilayah Indonesia, seiring tumbuhnya akses informasi dan semakin kuatnya pengaruh budaya pop terhadap selera konsumen muda.

Di sisi bisnis, perubahan perilaku ini membuka peluang yang nyata. Industri makanan dan minuman Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 6,49% hingga kuartal ketiga 2025 menurut Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI). Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal bahwa pasar kuliner sedang dalam momentum yang tepat untuk dimasuki dengan pendekatan yang lebih kreatif.

Gambaran ini juga terlihat dalam artikel Archipelago Korean Street Food Festival "60 Seconds to Seoul" Hadir di Yogyakarta di kanal FYB detikcom. Meski berangkat dari inisiatif hospitality, insight yang diangkat mencerminkan tren yang lebih luas, bagaimana festival kuliner berbasis budaya dapat menjadi strategi bisnis yang efektif sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih besar bagi pelaku usaha F&B.

Pengalaman sebagai Produk Utama

Konsumen masa kini, khususnya millennial dan Gen Z, tidak hanya membeli makanan. Mereka membeli cerita, suasana, dan momen yang layak untuk dibagikan. Karakter inilah yang membuat festival kuliner bekerja dengan cara berbeda dibanding iklan digital biasa. Ketika seseorang menyaksikan langsung proses memasak di depannya, mencicipi menu yang baru ia kenal, lalu mengabadikan momennya untuk diunggah, efek pemasaran yang tercipta jauh lebih organik dan tahan lama.

Bagi pelaku usaha F&B, ini adalah peluang yang nyata. Format live cooking, misalnya, bukan sekadar hiburan. Ia adalah alat edukasi produk yang membangun kepercayaan konsumen secara langsung, sekaligus menciptakan konten gratis yang disebarluaskan oleh pengunjung itu sendiri.

Kolaborasi yang Melipatgandakan Dampak

Satu hal menarik lainnya dari model festival kuliner adalah bagaimana ia membuka ruang kolaborasi yang menguntungkan semua pihak. Ketika beberapa pelaku usaha hadir dalam satu event, biaya operasional bisa dibagi, tetapi eksposur yang didapat justru berlipat ganda. Audiens yang datang bukan hanya milik satu brand, melainkan milik semua yang terlibat.

Prinsip ini bukan hanya relevan bagi jaringan besar. UMKM kuliner pun bisa mengadopsi pendekatan yang sama: bergabung dalam satu festival tematik, berbagi biaya produksi dan promosi, namun menjangkau pasar yang jauh lebih luas dari yang bisa dicapai secara mandiri.

Tren Budaya sebagai Momentum Bisnis

Popularitas kuliner berbasis budaya, dari K-Food hingga fusion street food, bukan fenomena sesaat. Tren ini konsisten masuk dalam daftar preferensi konsumen yang paling banyak dicari, dan relevansinya diprediksi masih kuat di 2026. Bagi pelaku usaha yang jeli, momentum budaya seperti ini adalah pintu masuk ke segmen konsumen yang sebelumnya sulit dijangkau melalui pendekatan konvensional.

Mengintegrasikan elemen budaya yang sedang relevan ke dalam konsep event bukan berarti ikut-ikutan tren tanpa arah. Justru sebaliknya: ini adalah cara membaca pasar dengan cermat, lalu menyesuaikan pendekatan bisnis agar lebih resonan dengan audiens yang sudah siap menerima.

Investasi pada Pengalaman, Bukan Sekadar Promosi

Masih banyak pelaku usaha yang memandang event kuliner sebagai pengeluaran besar tanpa kejelasan return-nya. Padahal, jika dirancang dengan tujuan yang tepat, festival kuliner adalah investasi dalam bentuk yang berbeda, membangun loyalitas, memperkuat identitas brand, dan menciptakan komunitas konsumen yang tidak mudah berpindah.

Dengan kontribusi UMKM yang menyentuh 61,9% terhadap PDB nasional dan jumlah unit usaha yang melampaui 65 juta pada pertengahan 2025, potensi sektor ini untuk tumbuh melalui pendekatan yang lebih kreatif sangat besar. Festival kuliner, bila dikelola sebagai strategi bisnis dan bukan sekadar acara seremonial, bisa menjadi salah satu cara paling efisien untuk naik kelas.

Pada akhirnya, peluang terbesar bukan selalu datang dari channel yang paling ramai, tetapi dari format yang paling mampu menciptakan pengalaman berkesan. Dan dalam industri kuliner, pengalaman adalah segalanya.

Ingin tahu bagaimana konsep festival kuliner berbasis budaya ini dieksekusi secara nyata? Archipelago Hotels baru saja menghadirkan Korean Street Food Festival bertajuk "60 Seconds to Seoul" di Yogyakarta sebagai bagian dari program kuliner globalnya.

Ingin mendapatkan insight menarik lainnya seputar bisnis, UMKM, dan tren ekonomi terkini? Kunjungi kanal FYB detikcom dan temukan berbagai perspektif yang bisa membantu mengembangkan strategi usaha Anda.

(grf/grf)